Kesaksian

Penyakit Usus Buntu Sembuh Berkat XAMthone Plus

Penyakit Usus Buntu Sembuh Berkat Minum XAMthone Plus

Nama : Wahyu Hidayat
Asal : Mojokerto, Jawa Timur
Umur : 20 tahun
Profesi : Mahasiswa
Penyakit : Usus Buntu
Saya minum XAMthone Plus 6 botol setelah operasi usus buntu. Menurut dokter proses pemulihan setelah operasi kira-kira sebulan, dan itu menurut saya sangat menyiksa. Akhirnya saya minum XAMthone Plus 6 botol selama sebulan, belum sampai sebulan penyakitnya sembuh.
Nama : Herman Stelen
Asal : Jakarta, DKI Jakarta
Umur : 26 tahun
Profesi : Pegawai Swasta
Penyakit : Usus Buntu
Saya minum XAMthone Plus 6 botol setelah melewati operasi usus buntu. Awal setelah operasi rasanya sakit sekali, bergerak terlalu cepat pun rasanya sakit sekali. Setelah minum XAMthonePlu 6 botol selama 1 bulan semua keluhan itu hilang dan sekarang saya sehat seperti dulu lagi.
Nama : Suyudi Sanjaya
Asal : Bekasi, Jawa Barat
Umur : 29 tahun
Profesi : Pegawai Negeri Sipil
Penyakit : Usus Buntu
Saya minum XAMthone Plus 3 botol saja penyakit usus buntu yang tadinya mau dioperasi akhirnya tidak jadi. Saya minum 30 ml sesudah makan dan sekarang pun saya tetap minum.
Nama : Sulaiman Gara
Asal : Mataram, NTB
Umur : 24 tahun
Profesi : Pekerja Bangunan
Penyakit : Usus Buntu
Saya minum XAMthone Plus 4 botol setelah saya merasa gejala usus buntu, saya tidak mau dioperasi karena saya tidak punya uang. Ternyata hasilnya memuaskan penyakit saya sembuh. Saya minum 30 ml setiap pagi dan malam sesudah makan. Alhamdulillah saya tetap minum sampai sekarang.
Nama : Fauzi Kurniawan
Asal : Bantul, Yogyakarta
Umur : 19 tahun
Profesi : Mahasiswa
Penyakit : Usus Buntu
Saya minum XAMthone Plus 6 botol selama 1 bulan dan hasilnya luar biasa, saya yang menderita gejalan usus buntu sekarang sembuh total dan tidak jadi operasi. Saya minum 30 ml setiap pagi dan malam sebelum tidur sesudah makan.

Tentang Kami

Assalamu alaikum wr. wb.

Sahabats,
Al Quran adalah mukzizat yang tergung di semesta alam-alam ini. Dalam kandungannya yang berlapis-lapis, Al Quran senantiasa memancarkan Cahayanya yang menerangi kehidupan ini.

Situs ini merupakan salah satu upaya kami untuk dapat memperoleh kilatan-kilatan cahaya Al Quran, agar kami bisa menjalani hidup ini sesuai dengan yang Dia Kehendaki.

Apa yang kami sajikan adalah buah dari pembelajaran kami terhadap Al Quran. Tentu masih jauh dari sempurna, namun kami berharap Dia yang Memiliki Al Quran berkenan membimbing dan merahmati kita semua, sehingga cahaya Al Quran yang Suci atas izinnya dapat menyinari diri kita.

Untuk perbaikan performance situs ini, kami sangat mengharapkan masukan, kritik serta saran membangun dari sahabat pengunjung. Atas perkenan dan perhatiannya kami haturkan terima kasih.

Akhirnya, selamat mengeksplorasi, semoga bermanfaat…

KETAKWAAN SEBAGAI UKURAN KESUKSESAN HIDUP

 

Al-Quran sebagai suatu kitab yang menginformasikan ajaran, tuntunan, pedoman Allah kepada makhluk-makhkluknya (jin & manusia) ketika membicarakan aspek kemakhlukannya sangat banyak menginformasikan hal-hal yang terkait dengan ketaqwaan maupun lawannya.

Marilah kita renungkan kandungan ayat-ayat yang berbicara di seputar ketaqwaan berikut, selamat merenungkannya….

Yang Paling Mulia di sisi Allah adalah yang Paling Taqwa

“Hai manusia. sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (TQS.49:13)

Sifat Orang Yang Bertaqwa

“Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk/hudaa bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rizki yang Kami anugrahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (TQS.2:2-5)

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan/ al-birr,akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya bila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar; dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (TQS. 2:177)

“Katakanlah: ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikiam itu?’ Untuk orang-orang yang bertaqwa, pada sisi Rabb mereka ada sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah; Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (yaitu) orang-orang yang berdoa:’Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.’. (Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar(ash-shadiqiin), yang tetap taat (al-muqnitiin), yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (TQS.3:15-17)

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Rabb-mu dan kepada sorga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang bila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri-sendiri, mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Rabb mereka dan sorga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala bagi orang yang beramal.”(TQS.3:133-136)

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat (yatadzakkaruu) kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.”(QS.7: 201)

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah); Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.” (QS.51:17-19)

Kesimpulan dari Ciri Orang Yang Bertaqwa :
1. Beriman kepada yang ghaib
2. Mendirikan shalat dan menunaikan zakat
3. Menafkahkan sebahagian rizki yang dianugrahkan Rabb mereka -baik di waktu lapang maupun sempit- kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta
4. Beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu
5. Yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan
6. Yang menepati janjinya bila berjanji
7. Yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.
8. Yang benar (ash-shadaquu)
9. Yang berdoa mohon ampunan dan terpelihara dari neraka:’Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.’.
10. Yang tetap taat (al-muqnitiin)
11. Yang sedikit sekali tidur di waktu malam dan memohon ampun di waktu sahur.
12. Yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang
13. Yang bila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri-sendiri, mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, lalu mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
14. Bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat (yatadzakkaruu) kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya

Agar Bertaqwa

“Wahai manusia, sembahlah (mengabdilah kepada) Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa.” (QS. 2: 21)

“Dan ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): ‘Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertaqwa.” (TQS.2:63)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik. Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabb-mu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu maka baginya siksa yang sangat pedih.
Dan dalam qishash itu ada hidup bagimu, hai ulil albab, supaya kamu bertaqwa.”
(TQS.2:178-179)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (TQS.2:183)

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan isteri-isterimu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan anfus-mu , karena itu Allah menerima taubatmu dan memaafkanmu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu i’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertaqwa.” (TQS.2:187)

“Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Rabb mereka, sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa’at pun selain dari pada Allah, agar mereka bertaqwa.” (TQS.6:51)

“Dan bahwa ini adalah shirath/jalan-Ku yang Mustaqim, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti sabil-sabil/jalan-jalan (yang lain), karena sabil-sabil itu mencerai-beraikan kamu dari sabil-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (TQS.6:153)

“Dan ketika suatu umat di antara mereka berkata: ‘Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?’ Mereka menjawab: ‘Agar kami mempunyai alasan kepada Rabb-mu dan supaya mereka bertaqwa’” (TQS.7:164)

“Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebahagian ancaman, agar mereka bertaqwa atau (agar) Al-Quran itu menimbulkan dzikir bagi mereka.” (TQS.20:113)

“Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al-Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka mendapat pelajaran/yatadzakkaruun. (yaitu) Al-Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) agar mereka bertaqwa.” (TQS.39:27-28)

Kesimpulan Perilaku agar Bertaqwa :
1. Menyembah (mengabdi) kepada Rabb.
2. Berpegang teguh pada apa yang diberikan Tuhan, serta mengingat selalu apa yang ada di dalamnya.
3. Mengikuti Shirath al-Mustaqim
4. Berpuasa (shaum)
5. Memahami hakikat ayat-ayat Allah.
6. Memahami hikmah Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab
7. Memahami hikmah perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Quran
8. Memberi peringatan kepada kaum yang lalai.
9. Bersedia menjalankan hukum qishash (bila prasyaratnya terpenuhi)

Sahabats, setelah kita renungkan ayat-ayat di atas, terpulang kepada kita seberapa besar tekad kita dalam berjuang untuk mengamalkannya…[]

Anggota Badan Menjadi Saksi Perbuatan Kita

Sahabats…

Agar kita lebih berhati-hati dalam berperilaku sehari-hari, marilah kita renungkan firman-Nya tentang Persaksian Anggota Badan terhadap Segala perilaku kita di dunia.

Selamat Berefleksi diri…

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (TQS.17:36)

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (TQS.36:65)

“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (TQS.41:20)

“Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”(TQS.41:21)

“Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.”(TQS.41:22)[]

Ayat Tentang Ash-Shiddiqqin

Sahabats…

Allah SWT menyatakan dalam Al-Quran terdapat satu golongan

manusia yang memiliki keistimewaan khusus, mereka itulah teman yang sebaik-baiknya bagi kita. Mereka adalah Kaum Ash-Shiddiqqin.

Marilah kita merenungkan ayat-ayat tentang mereka, agar kita dapat mencontoh dan meneladani mereka….

“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (TQS.4:69)

“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Tuhan mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka.” (TQS.57:19)

Sungguh berbahagialah kita jika bisa menjadi golongan mereka atau

seminimalnya, teman dari mereka…[]

 

 

Bermalam di Rumah Ahli Sorga

Anas Ibn Malik ra, menceritakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Nasa’i, perihal orang yang disebut-sebut sebagai penghuni surga. Diceritakan oleh Anas ra, “Suatu hari kami bersama para sahabat yg lain duduk dalam satu majlis bersama Rasulullah SAW. Di tengah-tengah memberi wejangan, beliau berkata, “Sebentar lagi akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni surga”. Tak lama berselang, tiba-tiba muncul seorang lelaki anshar dengan janggut masih basah oleh air wudlu. Ia berjalan dengan tangan kiri menjinjing sandal”.Keesokan harinya dalam kesempatan yg sama, Rasulullah kembali berkata demikian, “Akan datang seorang lelaki penghuni surga”. Tak lama kemudian, lelaki itu kembali muncul. Dalam kesempatan yg lain, untuk ketiga kalinya Rasulullah mengatakan hal yang sama. Demi menghapus rasa penasaran, sahabat Abdullah Ibn Amr Ibn Al-Ash mengikuti lelaki anshar yang disebut-sebut Rasulullah sebagai penghuni surga. Ibnu Amr berkata kepada laki-laki tersebut, “Wahai sahabat, dapatkah kamu memberi pertolongan? aku bertengkar dengan ayahku dan berjanji tidak akan menemuinya selama tiga hari. Maukah kamu memberi tumpangan selama tiga hari itu?”, pinta Ibn Amr. Setelah diperbolehkan, Ibn Amr bermalam di rumah lelaki tersebut selama 3 hari.

Sampai dengan malam ketiga, Ibnu Amr tak melihat sesuatu yg istimewa dari lelaki itu dalam ibadahnya, sampai ia hampir saja meremehkan amalan ibadah lelaki itu. Akhirnya Ibn Amr berterus terang kepadanya, “Hai hamba Allah, sebenarnya aku tidak sedang bertengkar dengan ayahku dan juga tidak sedang bermusuhan. Aku hanya ingin membuktikan apa yang telah dikatakan Rasulullah tentang dirimu. Beliau katakan dalam sebuah majlis sampai 3 kali, “Akan datang seorang di antara kalian lelaki sebagai penghuni surga”. Aku ingin tau, apa amalan yang membuatmu demikian dan aku ingin menirukan agar bisa mencapai kedudukan seperti dirimu”. Orang itu berkata, “Yang aku amalkan setiap hari tak lebih dari apa yang kau saksikan”. Saat Ibn Amr hendak berpamitan pulang, orang itu kembali berkata, “Demi Allah, amalku tidak lebih dari yang kau lihat. Hanya saja aku tak pernah menyimpan niat buruk terhadap sesama manusia. Aku juga tak pernah ada rasa dengki kepada mereka yang mendapat anugerah dan kebaikan dari Allah”. Mendengar pernyataan itu, Ibn Amr membalas, “Begitu bersihnya hatimu dari prasangka buruk dan perasaan dengki kepada orang lain. Inilah nampaknya yang membuatmu berada di tempat yang mulia itu. Sesuatu yang tak dapat aku lakukan”.[]

Hadits Tentang Keutamaan Membaca Surat Yaa Sin

Dari Abu Hurairah ra Rasulullah Saw berkata: “Siapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari keridhaan Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya.” (HR Ibnu Hibban)

Dari Anas ra Rasulullah Saw berkata: “Siapa yang terus menerus membaca surat Yasin pada setiap malam, kemudian ia mati maka ia mati syahid.” (HR Ath-Thabrani)

Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang membaca surat Yasin pada permulaan siang (pagi hari) maka akan diluluskan semua hajatnya.” (HR Ad-Damiri)

Rasulullah Saw berkata: “Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an dua kali.” (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Nabi Saw bersabda: “Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an sepuluh kali.” (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Nabi Saw berkata: “Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Al-Qur’an itu ialah surat Yasin. Siapa yang membacanya maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca Al-Qur’an sepuluh kali.” (HR At-Tirmidzi dan Ad-Damiri)

Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang membaca surat Yasin di pagi hari maka akan dimudahkan (untuknya) urusan hari itu sampai sore. Dan siapa yang membacanya di awal malam (sore hari) maka akan dimudahkan urusannya malam itu sampai pagi.” (HR Ad-Damiri)

Nabi berkata: “Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan mati di antara kamu.” (HR Abu Daud dan Ibnu Abi Syabilah)

Rasulullah Saw berkata: “Tidak seorang pun akan mati, lalu dibacakan Yasin di sisinya (maksudnya sedang naza’) melainkan Allah akan memudahkan (kematian itu) atasnya.” (HR Abu Nu’aim)

Ma’aqal ibn Yassaar ra meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Yasin adalah qalbu dari Al Quran. Tak seorangpun yang membacanya dengan niat menginginkan Akhirat melainkan Allah akan mengampuninya. Bacalah atas orang-orang yang wafat di antaramu.” (HR Abu Dawud).

JUJUR PADA DIRI SENDIRI

Suatu hari di Padepokan Kehidupan, nampak Guru Bijakbestari (GB) sedang bercengkrama dengan para santri.

GB : Anak-anakku, tahukah kalian salah satu cara untuk menjaga dan memperkuat fithrah dalam diri kita?

Santri-santri: Tidak Guru…, apakah itu?

GB: Jujur pada diri sendiri. Iya, dengan jujur pada diri sendiri banyak manfaat yang akan kita peroleh, di antaranya:

• Memperkuat sifat jujur yang merupakan salah satu ciri akhlak mulia.

• Menguatkan suara hati nurani, yang merupakan suara kebenaran dalam diri kita.

• Memperkuat dasar-dasar keyakinan terhadap nilai-nilai kebenaran universal.

• Menguatkan kepekaan terhadap suara-suara dalam batin kita.

S : Guru, bagaimana caranya agar kita bisa jujur pada diri sendiri?

GB: Anakku, sesungguhnya jujur pada diri sendiri adalah hal paling sederhana yang Allah lekatkan pada kita sebagai ciptaannya. Dalam diri kita telah Allah ciptakan perangkat non material, yaitu hati nurani (hati yang tercahayai oleh Nur Ilahi, untuk membedakan hati yang terkuasai dengan hal-hal jahat dalam diri) dan akal sehat (akal yang konsisten dan taat pada kaidah-kaidah berpikir benar, untuk membedakan dengan akal yang tidak taat dengan kaidah-kaidah berpikir benar).

Dua insrtumen ini merupakan perpanjangan suara Allah dalam diri kita. Nah, untuk bisa jujur pada diri sendiri, kita hanya membutuhkan mendengarkan suara-suara Ilahi ini dan memenangkan dalam pertempuran melawan suara-suara yang lain.

S : Mengapa pada kebanyakan kita sepertinya merasa kesulitan untuk berlaku jujur pada diri sendiri?

GB: Seorang dewasa akan kesulitan berbuat jujur pada diri sendiri jika yang bersangkutan terbiasa melakukan hal-hal berikut, a.l.:

• Beranggapan bahwa tidak ada suara dari dalam diri manusia

• Menurutkan hawa nafsu

• Terlalu berorientasi pada penumpukan harta pada ukuran kebahagiaannya

• Menjadikan kehormatan diri di mata manusia sebagai ukuran keberhasilan hidupnya.

• Tidak membiasakan melakukan perenungan/kontemplasi

• Terbiasa lebih mendengarkan saran-saran orang lain dari pada suara dari dalam dirinya

• Dsb.

Nah anakku, hendaknya kita sebagai hamba yang beriman marilah kita membiasakan berbuat jujur pada diri kita sendiri, agar kita pun kemudian terbiasa jujur pada Allah maupun makhluk-makhluk-Nya yang lain. Dengan jujur pada diri kita sendiri semoga Allah memperkuat fithrah kita.

Santri-santri: Baik Guru, mohon doanya Guru…

GB : Insya Allah anak-anakku, nah karena adzan maghrib sudah berkumandang, marilah kita bersiap-siap melaksanakan shalat maghrib berjamaah di masjid…

Demikianlah senja itu seperti senja-senja hari sebelumnya pada Padepokan Kehidupan nan senantiasa tenang dan terdengar senandung bacaan shalat yang disuarakan oleh suara berat serak basah dari Sang Gur Bijakbestari sebagai imam shalat.

Bekal Perjalanan dari Guru

Sahabats…
Sekedar mengingatkan, beberapa ayat untuk kita renungkan dan berusaha kita amalkan…

Taubat

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (TQS. 66:8)

Sang Guru senantiasa tidak bosan mengingatkan kita semua tentang wajib ‘ainnya taubat, kembali menuju hanya kepada-Nya semata.

Semua kehendak dan kemauan kita datangnya dari Allah SWT

“Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (TQS. 81:27-29)

Beliau selalu menekankan kepada kita semua bahwa kemauan dan kehendak kita untuk bertaubat hanya bisa terjadi jika Allah kehendaki.

“Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barang siapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya (surga). Dan bagi orang-orang lalim disediakan-Nya azab yang pedih.”(TQS. 76:29-31)

Berjuang/Jihad

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.(TQS. 5:35)

Untuk itu kita sangat beliau ‘perintahkan’ agar selalu berjuang..dan berjuang..

Mengikhlaskan Ibadah

“Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri) mu di setiap salat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya)”.(TQS. 7:29)

Dalam perjuangan itu, tak lupa belalu selalu mengingatkan kita agar melakukannya dengan IKHLAS.

Segala sesuatu Allahciptakan dengan Qadar (ketetapan-Nya)

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar(ukuran) /bi qadarin.”(TQS.54:49)

Demikian juga beliau senantiasa mengingatkan kita tentang ‘misi hidup’ yang harus kita temukan, setiap manusia memiliki tugas/misi hidup yang berbeda-beda, untuk apa kita diciptakan-Nya.

Berjanji setia kepada Allah

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.”(TQS. 48:10)

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (TQS. 7:172)
Beliau juga mengingatkan kita agar setia terhadap ‘janji kita’ pada Allah SWT.

Orang-orang yang Beruntung

“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”(TQS. 2:5)

Kepada siapa yang mengikuti petunjuk Allah, maka keselamatan Allah anugrahkan bagi mereka
“…Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.”(TQS. 20:47)
[]

Keutamaan Al-Quran & Para Pecinta Al-Quran

Dinukil dari IHYA ULUMUDDIN karya Imam Al-Ghazali, terjemahan Ahmad Rofi’ Usmani jilid 3 hal 135-137

Sahabats…
Marilah kita sama-sama merenungkan hadist dan atsar berikut….

Nabi SAW bersabda, ” Barangsiapa yang membaca Al-Quran, kemudian berpendapat bahwa ada sesuatu karunia yang lebih utama dari pada yang dikaruniakan kepadanya tersebut, ia telah meremehkan apa yang telah diagungkan oleh Allah SWT.”(HR Thabrani)

Nabi SAW bersabda, ” Tiada yang memberi syafaat, baik nabi, malaikat, maupun lainnya, yang kedudukannya lebih utama di sisi Allah SWT dari pada Al-Quran.”(HR Thabrani)

Nabi SAW bersabda,” Andaikan Al-Quran berada di dalam kulit yang tidak disamak, niscaya ia tidak akan disentuh api.” (HR Thabrani)

Nabi SAW bersabda,” Ibadah umatku yang paling utama ialah membaca Al-Quran.” (HR Abu Na’im)

Nabi SAW bersabda,” Sungguh, Allah SWT membaca surah Thaa-ha dan surah Yaa-sin sebelum Ia menciptakan makhluk seribu tahun setelahnya. Maka ketika para malaikat mendengarkan Al-Quran, merekapun berkata, ‘Berbahagialah qalbu yang menghafalkan ini ! Berbahagialah lidah yang bertutur dengan ini !’ “ (HR Ad-Darimi)

Nabi SAW bersabda,” Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR Bukhori)

Nabi SAW bersabda,” Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman,’ Barangsiapa yang menggunakan waktunya untuk membaca Al-Quran, sebagai ganti dari berdoa dan memohon kepada-Ku, niscaya Ku-berikan kepadanya pahala paling utama orang-orang yang bersyukur.” (HR Tirmidzi)

Nabi SAW bersabda,” Pada hari Kiamat kelak di atas bukit kecil dari misik hitam ada 3 kelompok yang tidak mengalami kesulitan akibat kegalauan waktu itu dani tidak terkena hisab amal perbuatan sampai usainya hisab yang dikenakan terhadap orang-orang lain. Mereka itu adalah orang yang membaca Al-Quran karena mengharap ridho Allah dan orang yang menjadi tokoh suatu masyarakat dan masyarakat itu suka kepadanya.”

Nabi SAW bersabda,” Para pecinta Al-Quran adalah para pecinta Allah dan orang-orang yang diistimewakan-Nya.” (HR An-Nasa’i)

Nabi SAW bersabda,” Qalbu berkarat bagaikan berkaratnya besi.” Kemudian beliau ditanya,” Wahai Rasulullah, Bagaimanakah cara membersihkannya?” Beliau menjawab,” (Dengan) membaca Al-Quran dan dzikrul maut (mengingat kematian).” (HR Al-Baihaqi) Nabi SAW bersabda,” Perhatian Allah SWT kepada pembaca Al-Quran lebih besar dari pada perhatian pemilik penyanyi kepada penyanyinya.”

Sementara dalam atsar para sahabat dan para ulama, antara lain:

Abu Umamah al-Bahili berkata,” Bacalah Al-Quran dan janganlah kalian terpedaya oleh mushshaf-mushshaf yang bergantungan ini. Sungguh, Allah SWT tidak menyiksa qalbu yang menjadi tempat bagi yang menjadi tempat Al-Quran.”

Sementara Ibnu Mas’ud ra. berkata,” Bila kalian menghendaki ilmu pengetahuan bacalah Al-Quran! Sungguh, di dalam Al-Quran terdapat ilmu orang-orang dahulu dan orang-orang terkemudian.”

Ibnu Mas’ud ra. juga berkata,” Bacalah Al-Quran !! Sungguh, dengan setiap huruf darinya kalian akan Allah karuniai sepuluh kebajikan. Aku tidak mengatakan alif-lam-miim itu satu huruf, sungguh!! tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan miim satu huruf.”

Nah sahabats, setelah menyadari betapa sangat agungnya Al-Quran tersebut, mari kita prioritaskan mengkaji Al-Quran dalam hidup kita. Kemudian secara bertahap dengan senantiasa memohon bimbingan dan kemampuan dari Allah SWT kita berusaha mengamalkannya, gimana?
[]

TENTANG TAKDIR, SESUATU YANG SANGAT PENTING DALAM HIDUP INI

Sahabats…
Pembahasan tentang takdir (qodho dan qodar) adalah sangat penting untuk membekali kita menjalani kehidupan ini. Kematangan kita dalam hidup ini sangat dipengaruhi oleh kesempurnaan keimanan kita terhadap takdir yang merupakan rukun ke-6 dari Rukun Iman.
Kami meyakini bahwa terdapat tahapan yang saling berkaitan dalam rukun-rukun dalam Rukun Iman tersebut.

Kesempurnaan iman kita terhadap Allah akan menentukan keimanan kita terhadap Malaikat-malaikat-Nya. Kesempurnaan iman kita terhadap Malaikat-Nya akan menentukan keimanan kita terhadap Kitab-kitab Suci-Nya. Kesempurnaan terhadap Kitab Suci-Nya menentukan kesempurnaan keimanan kita terhadap Para Rasul-Nya. Kesempurnaan keimanan kita terhadap Para Rasul-Nya menentukan kesempurnaan keimanan kita terhadap Hari Akhir-Nya. Dan kesempurnaan keimanan kita terhadap Hari Akhir-Nya menentukan keimanan kita terhadap Qodho dan Qodar-Nya (Takdir Allah)

Mengingat urutan tahapan di atas, kita tahu betapa kompleksnya persyaratan kesempurnaan iman kita terhadap takdir. Hal ini memerlukan mantapnya keimanan kita terhadap ke lima rukun sebelumnya dalam Rukun Iman.

Nah, dalam tulisan kali ini, kami hanya hendak menyampaikan untuk bahan renungan kita bersama, bahwa betapa perlunya kita mengalokasikan hati, pikiran, waktu serta kelapangan dada kita untuk mau meneladani para Rasul serta Orang-orang suci terdahulu, serta menggugah diri kita sendiri yang mungkin sudah terlalu lama ‘terbuai’ oleh daya pikat duniawi dan tipuan hawa nafsu juga syahwat.

Jika kita mencermati ayat-ayat Al-Quran maupun Al-Hadits, ataupun kitab-kitab para ulama suci yang membahas takdir, kita akan menemukan pembahasan yang mengesankan banyak hal yang ‘nampak’ seperti penuh ‘kontradiksi dan membingungkan’. Namun, kalau kita menyimak dengan penuh konsentrasi, kecermatan logika yang optimal, dan disertai dengan permohonan bimbingan dari Allah SWT, kerumitan dan ‘kontradiksi’ tersebut pelan-pelan akan dapat kita pahami dengan baik. Insya Allah !!

Sungguh kami meyakini, bahwa cara meningkatkan keimanan terhadap takdir ini memerlukan hidayah dan inayah Allah, disertai dengan olah pikir yang optimal, serta amal sehari-hari yang jauh dari hal-hal yang Tidak Allah sukai. Kita hanya bisa mengendalikan hal-hal yang dalam kewenangan kita si makhluk yang kekuatannya hanya ‘pinjaman’ dari Dia yang Al-Qawiy (Maha Kuasa), selebihnya hanya Rahmat-Nya yang menjadi penentu akhir dari upaya kita.

Nah, sebagai salah satu upaya berikut ini kami sajikan ayat-ayat dan Al-Hadits tentang Takdir. Tentu, apa yang kami sajikan ini hanya sebagian dan yang sejauh kemampuan kami. Jika ada sahabats yang mau menambahkan untuk kita lengkapi bersama, kami menghaturkan terimakasih.

Semoga dengan merenungkannya dengan iman dan keterbukaan pikiran untuk menerima kebenaran, Allah merahmati dan memberkahi kita…amin.

AL-QURAN

“Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.”(QS.Yunus 10:96-97)

“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isro’ 17:13-15)

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barang siapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Hadiid 57:22-24)

“Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.” (QS. Ar-Ruum 30:36-37)

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada jiwa-jiwa mereka sendiri (bi anfusihim). Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’du 13:11)

AL-HADITS

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
“Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.” (Shahih Muslim No.4781)

Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:
“Sesungguhnya Allah Taala mengutus seorang malaikat di dalam rahim. Malaikat itu berkata: Ya Tuhan! Masih berupa air mani. Ya Tuhan! Sudah menjadi segumpal darah. Ya Tuhan! Sudah menjadi segumpal daging. Manakala Allah sudah memutuskan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka malaikat akan berkata: Ya Tuhan! Diciptakan sebagai lelaki ataukah perempuan? Sengsara ataukah bahagia? Bagaimanakah rezekinya? Dan bagaimanakah ajalnya? Semua itu sudah ditentukan dalam perut ibunya. (Shahih Muslim No.4785)

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
“Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil.
Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. “
(Shahih Muslim No.4786)

Hadis riwayat Imran bin Hushain ra., ia berkata:
“Rasulullah saw. ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi untuk apa orang-orang harus beramal? Rasulullah saw. menjawab: Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya.” (Shahih Muslim No.4789)

Sahabats…
Setelah merenungkan ayat-ayat dan hadits-hadits di atas, mungkin timbul beberapa pertanyaan di benak kita:
– Bagaimana mengharmonikan keimanan kita terhadap qodho (ketetapan) Allah dengan menghindari diri dari tipu daya kemalasan kita?
– Apa sih yang dimaksud dengan beramal sesuai dengan apa-apa yang Allah mudahkan sesuai ketetapan Allah?

Mari kita senantiasa mohon bimbingan Allah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas

Ayat Tentang Ujian Keimanan

Sahabats…
Dalam perjalanan suluk, cara Allah menguatkan keimanan kita adalah dengan mengirimkan berbagai ujian kehidupan kepada kita.

Mari kita renungkan ayat2 berikut ini, dan kita persiapkan diri kita untuk menerima ujian2 kehidupan tersebut dengan sabar.
Semoga Allah membimbing kita. amien.

[2:155] Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 155)

[2:214] Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

[3:186] Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.

[5:48] Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

[8:28] Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai ujian dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

[21:35] Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

[29:2] Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
[29:3] Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

[25:20] Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu ujian bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat.

[47:31] Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu

TAQWA   DAFTAR AYAT-AYAT AL-QURAN TENTANG KETAQWAAN

Posted on Januari 14, 2011 | 3 Komentar

Al-Quran sebagai suatu kitab yang menginformasikan ajaran, tuntunan, pedoman Allah kepada makhluk-makhkluknya (jin & manusia) ketika membicarakan aspek kemakhlukannya sangat banyak menginformasikan hal-hal yang terkait dengan ketaqwaan maupun lawannya.

Yang Paling Mulia di sisi Allah adalah yang Paling Taqwa

QS. 49: 13

“Hai manusia. sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Sifat Orang Yang Bertaqwa

QS. 2: 2 – 5

“Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk/hudaa bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rizki yang Kami anugrahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”

QS. 2: 177

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan/ al-birr,akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya bila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar; dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.”

QS. 3: 15 – 17

“Katakanlah: ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikiam itu?’ Untuk orang-orang yang bertaqwa, pada sisi Rabb mereka ada sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah; Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (yaitu) orang-orang yang berdoa:’Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.’. (Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar(ash-shadiqiin), yang tetap taat (al-muqnitiin), yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.”

QS. 3: 133 – 136

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Rabb-mu dan kepada sorga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang bila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri-sendiri, mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Rabb mereka dan sorga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala bagi orang yang beramal.”

QS. 7: 201

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat (yatadzakkaruu) kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.”

QS. 51: 17 – 19

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah); Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.”

Kesimpulan dari Ciri Orang Yang Bertaqwa :

1. Beriman kepada yang ghaib

2. Mendirikan shalat dan menunaikan zakat

3. Menafkahkan sebahagian rizki yang dianugrahkan Rabb mereka -baik di waktu lapang maupun sempit- kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta

4. Beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu

5. Yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan

6. Yang menepati janjinya bila berjanji

7. Yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.

8. Yang benar (ash-shadaquu)

9. Yang berdoa mohon ampunan dan terpelihara dari neraka:’Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.’.

10. Yang tetap taat (al-muqnitiin)

11. Yang sedikit sekali tidur di waktu malam dan memohon ampun di waktu sahur.

12. Yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang

13. Yang bila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri-sendiri, mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, lalu mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

14. Bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat (yatadzakkaruu) kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya

Agar Bertaqwa

QS. 2: 21

“ Wahai manusia, sembahlah (mengabdilah kepada) Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa.”

QS. 2: 63

“Dan ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): ‘Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertaqwa.”

QS. 2: 178 – 179

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik. Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabb-mu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu maka baginya siksa yang sangat pedih.

Dan dalam qishash itu ada hidup bagimu, hai ulil albab, supaya kamu bertaqwa.”

QS. 2: 183

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”

QS. 2: 187

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan isteri-isterimu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan anfus-mu , karena itu Allah menerima taubatmu dan memaafkanmu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu i’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertaqwa.”

QS. 6: 51

“Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Rabb mereka, sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa’at pun selain dari pada Allah, agar mereka bertaqwa.”

QS. 6: 153

“ Dan bahwa ini adalah shirath/jalan-Ku yang Mustaqim, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti sabil-sabil/jalan-jalan (yang lain), karena sabil-sabil itu mencerai-beraikan kamu dari sabil-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.”

QS. 7: 164

“Dan ketika suatu umat di antara mereka berkata: ‘Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?’ Mereka menjawab: ‘Agar kami mempunyai alasan kepada Rabb-mu dan supaya mereka bertaqwa’”

QS. 20: 113

“Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebahagian ancaman, agar mereka bertaqwa atau (agar) Al-Quran itu menimbulkan dzikir bagi mereka.”

QS. 39: 27 – 28

“Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al-Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka mendapat pelajaran/yatadzakkaruun. (yaitu) Al-Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) agar mereka bertaqwa.”

Kesimpulan Perilaku agar Bertaqwa :

1. Menyembah (mengabdi) kepada Rabb.

2. Berpegang teguh pada apa yang diberikan Tuhan, serta mengingat selalu apa yang ada di dalamnya.

3. Mengikuti Shirath al-Mustaqim

4. Berpuasa (shaum)

5. Memahami hakikat ayat-ayat Allah.

6. Memahami hikmah Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab

7. Memahami hikmah perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Quran

8. Memberi peringatan kepada kaum yang lalai.

9. Bersedia menjalankan hukum qishash (bila prasyaratnya terpenuhi)

Janji Allah Kepada Orang yang Bertaqwa

QS. 2: 194

“. . . Bertaqwalah kepada Allah, dan Allah beserta orang yang taqwa.”

QS. 9: 123

“. . . dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.”

QS. 9: 4

“. . . Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.”

QS. 9: 7

“. . . Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.”

QS.45: 19

“. . .dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertaqwa.”

QS. 2: 223

“ . . .Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk anfus (diri)-mu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”

QS. 2: 282 (bagian akhir ayat)

“. . . Dan bertaqwalah kepada Allah; Allah memberimu ilmu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

QS. 3: 15

“. . . Untuk orang-orang yang bertaqwa, pada sisi Rabb mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan isteri-isteri yang disucikan, serta keridhan Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.”

QS. 3: 133

“. . . dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.”

QS. 3: 198

“. . . Sedangkan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabbnya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal dari sisi Allah. Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti (al-abrar).”

QS. 3: 172

“. . . Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertaqwa terdapat pahala yang agung.”

QS. 3: 179

“. . . dan jika kamu beriman dan bertaqwa, maka bagimu pahala yang agung.”

QS. 2: 103

“Sesunguhnya kalau mereka beriman dan bertaqwa (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.”

QS. 4: 77 QS. 5: 65 QS. 6: 32 QS. 7: 26 QS. 7: 35

QS. 7: 128 QS. 7: 156 QS. 7: 169 QS. 8: 29 QS. 8: 34

QS. 10: 63 – 64 QS. 11: 49 QS. 12: 57 QS. 12: 90

QS. 12: 109 QS. 13: 35 QS. 15: 45 – 48

QS. 16: 30 – 31 QS. 19: 63 QS. 19: 85 QS. 25: 15

QS. 28: 83 QS. 38: 49 QS. 39: 20 QS. 39: 73 QS. 44: 51

QS. 49: 13 QS. 51: 15 QS. 52: 17 QS. 54: 54 QS. 55: 46 – 76

QS. 65: 2 – 5 QS. 68: 34 QS. 77: 41 QS. 78: 31

QS. 92: 7

Perintah Bertaqwa kepada Allah

QS. 2: 21

“ Wahai manusia, sembahlah (mengabdilah kepada) Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa.”

QS. 3: 102

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan taqwa yang haqq; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan berserah-diri (muslimuun)”

QS. 2: 63

“Dan ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): ‘Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertaqwa.”

QS. 22: 32

“ Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan qalbu.”

QS. 2: 189

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah:’Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertaqwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu beruntung (tuflihuun).”

QS. 2: 196

“ . . . Dan bertaqwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.”

QS. 2: 223

“ . . .Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk anfus (diri)-mu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”

QS. 2: 231

“. . . Dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al-Kitab dan Al-Hikmah. Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertaqwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

QS. 2: 233

“. . .Dan bertaqwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

QS. 2: 278

“ Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang yang beriman.”

QS. 2: 282

“. . . Dan bertaqwalah kepada Allah; Allah memberimu ilmu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

QS. 2: 283

“ Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seoarng penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh orng yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Rabb-nya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya, dan Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”

QS. 3: 50 QS. 4: 9 QS. 4: 131 QS. 5: 4 QS. 71: 3

QS. 5: 7 QS. 5: 11 QS. 5: 35 QS. 5: 57 QS. 5: 88

QS. 5: 100 QS. 5: 108 QS. 5: 112 QS. 6: 72 QS. 6: 155

QS. 8: 69 QS. 9: 119 QS. 11: 78 QS. 15: 69 QS. 16: 2

QS. 23: 52 QS. 24: 52 QS. 25: 58 QS. 26: 108 QS. 26: 110

QS. 26: 126 QS. 26: 132 QS. 26: 144 QS. 26: 150 QS. 26: 163

QS. 26: 179 QS. 26: 184 QS. 26: 217 QS. 29: 16 QS. 30: 31

QS. 31: 33 QS. 33: 1 QS. 33: 3 QS. 33: 37 QS. 33: 48

QS. 33: 55 QS. 33: 70 QS. 39: 10 QS. 39: 16 QS. 43: 63

QS. 49: 1 QS. 49: 10 QS. 49: 12 QS. 57: 28 QS. 59: 7

QS. 59: 18 QS. 60: 11 QS. 65: 2 QS. 65: 10 QS. 2: 197

La haula wa laa quwwata illa bilahi Al-Aliyyul Adhim []

Ayat-Ayat Yang Menunjukkan Keterbatasan Akal Pikiran

Dalam Al-Quran Allah memfirmankan sebagian ayat-ayat yang isinya menunjukkan betapa kandungan ayat tersebut tidak akan mungkin dapat dijangkau secara optimal oleh akal pikiran kita yang rasional empiris. Untuk memahami yang terdekat dengan apa yang Dia Kehendaki tentang kandungan ayat tersebut, Allah telah melengkapi pikiran rasional empiris kita dengan qalbu dan lubb (jamaknya albab). Jika ketiga instrumen yang Allah anugrahkan kepada manusia ini dapat kita manfaatkan secara optimal, maka kemampuan kita untuk mencerap pemahaman realitas atas segala sesuatu mencapai derajat yang tinggi.

Beberapa ayat yang dimaksud di atas di antaranya mengandung hal-hal yang secara rasional empiris seperti berlawanan/kontradiktif, a.l.:

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin..(Huwa Al-Awwalu wa Al-Akhiru Huwa Al-Dhohiru wa Al-Bathinu)” (QS. Al-Hadiid [57]:3)

Ada juga yang kandungan ayatnya tidak mampu dijangkau oleh akal pikiran karena mengungkapkan tentang keluarbiasaan Allah SWT yang jika dipahami secara empiris sangat sulit, a.l.:

“Allah cahaya langit dan bumi (Allahu nur as-samawaati wa al-ardhi). Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.An-Nuur [24]:35)

Terhadap ayat-ayat tersebut, kapasitas dan kemampuan akal pikiran rasional empiris kita tidak akan sanggup memahami hakikatnya, sehingga memerlukan bantuan qalbu dan ‘aql/lubb kita yang harus dalam kondisi terbebas dari ‘penyakit-penyakitnya’.

Beruntunglah kita bahwa Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul dari kalangan manusia seperti kita yang membantu kita dalam memahami hakikat kehidupan. Kemudian setelah beliau-beliau wafat, Allah menggantikannya dengan para shiddiqin, syuhada dan shalihin yang meneruskan tugas para nabi dan rasul. Dan hingga zaman kita hidup saat ini, meskipun tidak mudah dicari, tetapi Allah masih mengizinkan keberadaan beliau-beliau di dunia ini.

Hal penting lainnya, Insya Allah, Dia akan membimbing siapa saja yang memiliki qalbu dan ‘aql/lubb yang terbebas dari ‘penyakit-penyakit’nya untuk bertemu serta belajar dengan shidiqqin, syuhada’ dan shalihin. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa bahu-mambahu dalam sisa umur kita untuk berjuang keras dalam mencapai kondisi tersebut, karena Allah sebagai Pencipta Yang Maha Sempurna juga menciptakan makhluk yang tugasnya membuat ‘aql dan qalbu kita ber’penyakit’.

Laa haula wa laa quwwata illa billahi Al-Aliyyul Adhiim.

Wallahu a’lam bi shawwab.

 

 

 

 

 

 

Apa-apa yang Dibutuhkan Pejalan (Bagian II) – Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

Sahabats…

Pada tulisan kali ini, Syaikh Al-Akbar menasihati kita tentang kehalalan dan kethayyiban makanan serta rizki yang Allah amanahkan kepada kita, serta bagaimana seharusnya kita memperlakukan amanah tersebut dalam hidup kita. Hal ini penting sebagai bekal dari perjalanan spiritual kita. Marilah kita renungkan dan amalkan…

DUA

Pastikan kehalalan dan kethoyyiban serta haqq semua hal kesenangan yang engkau pergunakan di dunia ini, termasuk makanan dan minuman yang masuk ke dalam mulutmu, karena merupakan pondasi dari ad-diin yang sedang engkau bangun.

Untuk menaikkan tingkat spiritualmu, dalam jejak-jejak pengajaran para nabi (assalaamu’alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh), engkau harus menjadi cahaya – cahaya dalam pelbagai kebajikan, cahaya dalam perhatianmu terhadap perbaikan dunia. Tanda-tanda-Nya yang mampu engkau baca akan membimbingmu kepada orang-orang yang akan engkau ringankan bebannya, dan akan melindungimu dari menjadi beban bagi orang lain. Jangan pernah menjadi benalu maupun membiarkan orang lain untuk membawa beban-bebanmu. Ingatlah, jangan pernah menerima harta benda dan hadiah baik untuk dirimu sendiri, keluargamu, saudaramu, teman-temanmu, yang berasal dari orang-orang yang hatinya mati, tenggelam dalam tidur panjangnya.

Dalam apapun Yang Allah ijinkan bagimu untuk menjadi ‘makanan’mu, baik dalam sikap, perilaku, dan kata-kata, selalulah berada dalam takut kepada-Nya. Janganlah mencari kenyamanan dan kemewahan, khususnya jika kau tak pernah berusaha keras untuk meraih hal itu. Pencarian akan haqqnya sesuatu bagimu akan ditemukan dengan cara bekerja keras. Harta benda halal yang engkau peroleh harus dikeluarkan dengan haqq: jangan pelit ataupun boros, tetapi berada di antara keduanya.

Berhati-hatilah jika cinta dunia telah mengambil tempat di hatimu, karena ia akan menyempitkan hatimu, dan menjadi sulit luar biasa untuk mengeluarkan dan membuangnya jauh-jauh. Dunia ini sumber ujian; jangan mencari kenyamanan dan bermegah-megahan dengannya. Hal itu akan menciptakan lebih banyak kamar-kamar dalam hatimu dan akan menurunkan keinginan untuk beribadah.

Bersihkan dan jadikan indah sepanjang harimu sedari pagi hingga malam dengan mengabdi kepada Allah. Tuhan memintamu untuk menghadirkan Diri-Nya saat melaksanakan shalat lima waktu. Dengan shalatmu Dia memanggilmu, lima kali sehari, dan setiap jeda waktu shalat ke shalat berikutnya akan menjadi pengontrol perilakumu. Diharapkan, hanya sikap dan perilaku yang baik, tepat dan benarlah yang menjadi sikap dan perilaku seorang muslim.

Kebanyakan orang banyak mengeluh, mereka bekerja demi mencapai kenyaman dalam tercukupinya makan – minum dan hasrat dunia mereka, dan pekerjaan mereka jadikan sebagai penjaga dan pelindung bagi keluarga mereka, mengambil banyak waktu, sibuk dengan urusan makan – minum, bukan pengabdian kepada Allah. Ketahuilah, bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan benar adalah pekerjaan yang dilakukan dengan penuh perhatian dan menenggang rasa orang lain, dalam perilaku yang tepat benar, demi kesenangan Allah semata, yang, tentunya tidak lepas dari rasa mengabdi kepada-Nya.

Allah memberkahimu dengan pikiran, pengetahuan, pekerjaan, kekuatan, dan kesehatan. Semua kemuliaan dan kekuatan hanya bagi-Nya. Pergunakanlah optimal semua berkah-Nya bersama-sama untuk peraihan kebutuhan makan – minummu dalam waktu yang minimal. Jika memungkinkan, cukuplah bagimu hanya satu hari untuk mencari penghasilan. Seorang Ahmad al-Sabti, seorang pangeran, anak dari Kalifah Harun al-Rasyid; beliau menggunakan optimal bakat-bakat, kekuatan, usaha keras terus-menerus pada hari Sabtu. Dengan satu hari dalam seminggu itu ia mampu menghidupi dirinya (menerima upah dari manusia) selama satu minggu. Beliau telah mendedikasikan keenam hari lainnya untuk hanya bekerja dan mengabdi kepada Allah, tanpa balasan apa-apa dari manusia.

Setelah shalat subuh, tetaplah duduk berdzikir atau merenung hingga terbit matahari. Setelah shalat ashar, tetaplah berdzikir dan merenungi Kehadiran-Nya hingga terbenam matahari. Dua waktu ini merupakan waktu yang penuh dengan pelimpahan kekuatan spiritual dan pencerahan. Jaga hatimu agar senantiasa terikat kuat kepada Allah dalam kerendahan hati dan sakinah.

Terdapat kebaikan dan nilai yang besar bagi siapa-siapa yang melaksanakan shalat sunnah sebanyak antara waktu siang dan sore, dan antara waktu sore dan malam. Lakukanlah shalat sunnah 2 rakaat sebelum dan 2 rakaat sesudah shalat dzuhur, 2 rakaat sebelum shalat ashar, 2 rakaat setelah shalat maghrib dan 2 rakaat setelah shalat isya. Lakukan 8 rakaat shalat tahajjud dan 3 rakaat shalat witr sebagai penutup malam. Al-Mutahajuddin adalah orang-orang yang berjaga sepanjang malam dengan mendzikiri-Nya. Mereka lah yang akan menemukan al-Haqq. “Malam-malamku penuh percakapan intim dengan Kekasih, sementara siang adalah tugasku ke manusia.”

Jangan tidur hingga engkau sendiri jatuh tertidur tak sanggup membuka mata lagi. Jangan makan hingga engkau merasakan lapar. Berpakaianlah sekedar untuk menutupi tubuhmu dan melindunginya dari dingin dan panas. Biasakanlah dirimu setiap harinya untuk membaca al-Quran. Bacalah dalam keadaan sebenar-benar menghormatinya. Bacalah dengan suara yang engkau sendiri mendengarkan apa yang engkau baca. Baca pelan-pelan, jangan tergesa-gesa, berpikirlah dalam-dalam tentang makna setiap kata yang engkau baca. Berharaplah berkah dan rahmat-Nya dalam setiap ayat yang engkau baca, yang akan membukakan tentang-mu dan Diri-Nya. Berhati-hatilah terhadap ayat-ayat peringatan, bertaubatlah, carilah perlindungan dan keselamatan di dalam Rahmat-Nya. Ketika engkau membaca ayat-ayat yang menggambarkan kualitas orang-orang mulia karena keimanannya yang sempurna benar, bandingkanlah dengan keadaanmu. Berterimakasih dan bersyukurlah kepada-Nya atas iman yang diberikan-Nya kepadamu, dan merasa malulah karena betapa jauh imanmu dari iman yang dimiliki oleh orang-orang mulia tersebut, jadi bentangkanlah harapanmu untuk menemukan karakter iman sempurna benar di dalam dirimu. Dan pada saat engkau membaca ayat-ayat tentang dosa-dosa yang dilakukan oleh orang-orang tak beriman dan para munafik yang menyembunyikan dan menyelewengkan kebenaran, pikirkanlah tentang apakah kau juga termasuk bagian dari diri mereka. Jika iya, berusaha keraslah untuk ke luar dari golongan tersebut, berusaha keras untuk tidak melakukan dosa, dan mengusir karakter mereka jauh-jauh. Jika engkau tidak termasuk ke dalam golongan mereka, carilah perlindungan di Dalam Allah, berterimakasih dan bersyukurlah kepada-Nya.

Apa-apa yang penting bagimu merupakan apa-apa yang harus benar-benar menjadi fokusmu setiap harinya; perhatikan benar-benar apa-apa yang masuk ke dalam pikiran dan hatimu . Berpikir tentang dan analisa pikiran-pikiran dan perasaan-perasaanmu. Berusaha keraslah untuk mengendalikan mereka. Sadarilah sebenar-benar sadar keinginan-keinginan dari egomu, pergunakan pengetahuan-pengetahuanmu untuk mengendalikan egomu.

Milikilah rasa bersalah, malulah di hadapan-Nya. Hal itu akan menjadi motivasimu untuk memperbaiki diri. Lalu engkau akan sebenar memperhatikan rasa, pikiran, perkataan, dan perbuatanmu. Pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang buruk bagimu dalam pandangan Allah tidak boleh tinggal menetap di dalam hatimu. Kemudian hatimu akan selamat dari segala sesuatu yang tidak tepat benar menurut-Nya.

Jadikan waktu-waktumu bernilai tinggi, hiduplah dalam kehariinian. Jangan hidup dalam imajinasi dan angan-angan yang akan melemparkan waktumu jauh-jauh di luar angkasa. Setiap saatnya, Allah telah menunjukkan dan mengarahkanmu pada sebuah tugas, perbuatan, dan sebuah pengabdian yang sesuai dengan kesejatianmu. Ketahui dan kenalilah ‘apa’ itu dan bergegaslah melaksanakan ‘apa’ mu itu. Pertama: lakukan perbuatan-perbuatan yang menjadi kewajibanmu. Kedua: lakukan apa-apa yang dikatakan misalnya oleh para Nabi, utusan, dan orang suci lainnya. Ketiga: ambil dan lakukanlah apapun yang dimudahkan-Nya bagimu, terimalah dengan baik. Bekerjalah untuk melayani orang-orang yang membutuhkan.

Lakukanlah segala hal di atas agar engkau semakin mendekati Tuhan-Mu, semakin besar pengabdianmu dan semakin khusyuk shalat, doa, dan dzikirmu . Selalu berperilaku seolah-seolah itu merupakan perilaku terakhirmu, selalu shalat seolah-olah merupakan shalat terakhirmu, dimana tiada lagi engkau memiliki kesempatan untuk melakukannya lagi setelahnya. Jika engkau melakukan hal itu, maka engkau akan khusyuk dalam berperilaku, fokus pada pencarianmu, engkau pun akan menjadi orang yang jujur dan penuh iman. Allah tidak menerima perbuatan baik yang dilakukan tanpa kesadaran dan kejujuran. Lakukanlah perbuatan-perbuatan baik dengan penuh kesadaran dan kejujuran.

Kemurnian/ kebersihan/ kesucian hati merupakan aturan Allah, dan niscaya bagi seorang yang iman. Jagalah selalu kebersihan lahir bathinmu. Setiap selesai wudhu, shalatlah sebanyak 2 rakaat, kecuali pada waktu terbit matahari, matahari sedang tinggi, dan terbenam matahari.

Sumber: What the Seeker Needs, Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

Apa-apa yang Dibutuhkan Pejalan (Bagian V) – Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

Sahabats…

Kali ini melanjutkan bekal-bekal sebelumnya, Syaik Al-Akbar Muhyiddin Ibnu Araby menjelaskan tentang mengendalikan marah dan beberapa perilaku untuk menyempurnakan akhlak kita. Marilah kita renungkan dan usahakan mengamalkannya.

LIMA

Jika engkau berharap untuk menemukan al-Haqq, kecintaan Allah, dan Dukungan-Nya, maka tinggalkanlah perilaku negatif, kendalikanlah sifat buruk dan kemarahanmu . Jika engkau tidak mampu untuk tidak marah, setidaknya jangan perlihatkan marahmu; maka Allah akan senang dan betapa setan akan kecewa kepadamu. Engkau pun akan mulai untuk mendidik egomu, menguatkan dan mendekatkanmu kepada Jalanmu. Kemarahan merupakan hasil dan sebuah tanda dari adanya ego yang tidak terkendali, bagaikan seekor hewan buas liar bebas tidak terkurung. Mengeluarkan marah, bagai tali kekang yang engkau buang dari atas kepalamu dan memasukkan banyak keburukan ke dalamnya. Jinakkanlah kepalamu, kau ajarkan bagaimana berpikir dengan benar, untuk taat kepada Allah, sehingga tiada orang lain yang engkau sakiti ataupun dirimu sendiri.

Begitu engkau berhasil mengekang pikiranmu, maka begitu menghadapi orang yang kehilangan kendali dirinya dan marah-marah kepadamu, maka engkau akan menghadapinya dengan tenang. Kau tidak akan bereaksi agresif pada penyerangannya. Kau tidak akan menghukum atau merespon perilaku negatifnya dengan kekasaran juga, melainkan kau abaikan saja. Mengabaikan lebih efektif daripada membalasnya. Barangkali ia akan melihat akibat-akibat dari perbuatannya, akibat dari kemarahannya, menyadari hal benar – salah, dan akhirnya mengakui kesalahannya.

Perhatikanlah saran-saran tentang pengendalian marah ini dan jadikanlah sebagai karakter dirimu; maka tentu engkau akan memperoleh hasil dan ganjaran positif di dunia maupun di akhirat. Timbangan al-haqq mu akan berat. Itulah ganjaran dan kemuliaan terbesar yang akan engkau terima. Mengeluarkan kemarahan hanya akan mengundang murka besar Allah, Dia akan menghukummu. Pemaafanmu akan diganjar dengan ampunan-Nya. Adakah keberuntungan yang lebih baik yang bisa diharapkan oleh seseorang yang disakiti oleh saudara-saudaranya seiman selain ampunan Allah semata?

Allah akan memperlakukanmu sama dengan perlakuanmu terhadap orang lain. Jadi berusahalah untuk memiliki kualitas perilaku yang baik: pendamai, penolong, lemah – lembut, dan penuh cinta. Dengan perilaku tersebut, berjama’ahlah. Engkau akan melihat bagaimana perilaku tersebut akan merahmati sekelilingmu, menciptakan harmoni, cinta – kasih, saling menghargai dan menghormati. Sang Kekasih Allah, Nabi Muhammad saw., memerintahkan kita untuk saling mencintai satu sama lain dan memelihara hubungan silaturahiim. Betapa Rasulullah Muhammad saw. mengulang-ulangi perintah ini dalam banyak cara, dalam banyak pernyataan. Untuk meninggalkan kemarahan, gantilah ia dengan penderitaan menahannya, memaafkan, dan tetap saling menjaga dan memperhatikan orang yang menyakiti. Kesemuanya merupakan, menjadi pilar dari tumbuh dan berkembangnya cinta.

Bukalah hatimu lebar-lebar, luaskanlah agar mampu menerima Rahmat Allah. Sebuah hati yang terahmati menjadi cermin manifestasi Allah. Ketika manifestasi Allah muncul dan datang melaluimu, begitu kau merasakan Kehadiran-Nya, maka kau akan malu ketika berperilaku salah. Hal itu akan menyebabkan antara engkau dan orang lain memiliki keterhubungan hati. Rahmat-Nya pun akan melindungimu dan orang lain dari dosa.

Ketika Malaikat Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad saw., “Apakah yang dimaksud dengan Rahmat Allah?” Nabi Muhammad saw. menjawab, “Shalat dan mengabdi kepada Allah seolah-olah engkau berada di Dalam Kehadiran-Nya, seolah-olah engkau melihat-Nya.” Rasa menghormati Allah terefleksi di dalam hati seorang mukmin yang mencapai level demikian.

Lalu Nabi Muhammad saw. melanjutkan, “Bagi engkau yang tak mampu melihat-Nya, yakinilah Dia tentu mampu melihatmu.”

Seorang mukmin yang mencapai level Rahmat Allah akan memiliki hati nurani. Dia akan merasakan bahwa Allah senantiasa mengawasinya sehingga membuatnya malu untuk berbuat dosa. Nabi Muhammad saw. berkata lagi, “Memiliki hati nurani adalah kebaikan sempurna.” Jika seorang mukmin memiliki hati nurani, ia akan menyadari apa yang ia lakukan dan ia tidak boleh melakukan kesalahan. Seseorang dengan hati yang dipenuhi Allah, maka hawa nafsunya tak akan membahayakannya baik ketika ia berada di dunia maupun di akhirat nanti. Tanda-tanda seseorang yang sudah memiliki hati nurani, yaitu: berkurangnya arogansi dan merasa diri penting; keduanya merupakan ego. Orang seperti itu tidak akan pernah mencoba atau berusaha untuk mendominasi atau menguasai seseorang. Semoga kalian semua mencapai level Rahmat Allah dan memiliki hati nurani, dan semoga kalian semua memiliki kekuatan dan pandangan tajam menuju Allah semata. Amiin, ya, Robbal ‘alamiin.

Bangunlah sebelum terbit matahari, berdzikirullaah lah, dan bertobatlah . Dosa yang disertai taubat akan menghapus dosa itu. Dosa akan hilang bagaikan tidak pernah terjadi. Ketika perilaku, shalat, dan ibadah lain disertai oleh taubat, maka hal itu bagaikan cahaya di atas cahaya, keagungan di atas keagungan. Mendzikiri Allah dan memuji-Nya akan menyatukan keterceberaian di dalam hati – seperti ratusan pecahan kepingan cermin – menambalnya, menjadikannya satu kembali, dan mengembalikan hati untuk focus kepada Al-Ahad. Lalu semua kejahatan pun meninggalkan hati, dan hati lalu dipenuhi dengan kesenangan senantiasa mendzikiri-Nya.

Ketika hatimu penuh melimpah dengan mendzikiri-Nya, lalu membaca al-Quran; refleksikanlah maknanya pada dirimu. Pada ayat-ayat yang menunjukkan ke-ahad -an dan kesempurnaan-Nya, pujilah Dia. Pada ayat-ayat yang menunjukkan berkah, anugerah, rahmat, dan cinta atau kemurkaan dan hukuman-Nya, berlindunglah dari-Nya di Dalam Diri-Nya dan mohonlah Rahmat-Nya. Pada ayat tentang kisah para nabi dan pengikutnya, benar-benar perhatikan dan ambillah pelajaran dari apa-apa yang terjadi kepada mereka. Memang Al-Quran sulit dimaknai karena memiliki makna samar hingga tujuh lapis, di dalam setiap katanya. Maknanya berubah sesuai dengan perubahan maqom dan ahwalmu, pengetahuan dan pemahamanmu. Karena itu, tidak mungkin kau akan pernah merasa lelah, lemah, atau bosan dalam membaca al-quran, dengan maknanya.[]

Sumber: What the Seeker Needs, Muhyiiddiin Ibn ‘arabi

Bahagia

Sahabats…

Marilah kita mencoba menelusuri arti dan ciri orang yang bahagia (as-sa’iduun) dalam Al-Quran.

Definisi Mereka Yang Bahagia (sa’iduun)

“Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia.” (TQS. 11:105)

“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (TQS. 11:108)

Jadi, Allah mendefinisikan dalam ayat di atas, mereka yang bahagia itu adalah mereka yang berada di surga.

Siapa Saja yang Berada di Surga?

“Dan orang-orang yang beriman (amanu) serta beramal shalih (amilu shalihat), mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (TQS. 2:82)

“Dan orang-orang yang beriman (amanu)dan mengerjakan amal-amal yang shalih (amilu shalihat), Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.”(TQS.7:42)

“Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): “Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (adzab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?” Mereka (penduduk neraka) menjawab: “Betul”. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: “Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dzalim,” (TQS.7:44 )

“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A`raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga:” Salaamun `alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).” (TQS.7:46)

“(Orang-orang di atas A`raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?” (Kepada orang mukmin itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.” (TQS.7:49)

“Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir,” (TQS.7:50)

“Bagi orang-orang yang berbuat baik (ahsanu), ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (TQS.10:26)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (amanu) dan mengerjakan amal-amal shalih (amilu shalihat) dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka (ahbatuu ila Rabbihi) , mereka itu adalah penghuni-penghuni surga mereka kekal di dalamnya.” (TQS.11:23)

“Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya (khoirun mustaqarran wa ahsanu maqilan).(TQS.25:24)

“Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (al yauma fii sughulin faakihatin).” (TQS.36:55)

“Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (TQS.46:14)

“Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.”(TQS.46:16)

“(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa (al-muttaqun) yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (TQS.47:15)

“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (TQS.55:56)

“Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (TQS.55:74)

“Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.” (TQS.59:20)

 

 

 

 

 

 

 

 

Ciri-Ciri Para Penghuni Surga (Orang yang Bahagia)

  • Beriman (amanu)
  • Beramal/mengerjakan amal Shalih (amalan shalihan)
  • Yang berbuat baik (ahsanu)
  • merendahkan diri kepada Rabb (Tuhan) mereka (ahbatuu ila Rabbihi)
  • Yang Bertakwa (al-muttaquun)
  • Yang Beruntung (al-faaizun)
  • Yang pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (al yauma fii sughulin faakihatin).
  • Yang paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya ((khoirun mustaqarran wa ahsanu maqilan)

Nah sahabats, setelah kita merenungkan dengan logika yang sederhana ini, terpulang kepada kita untuk mengamalkannya.[]

Apa-apa yang Dibutuhkan Pejalan (Bagian III) – Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

Sahabats…

Merenungkan nasihat Syeikh Al-Islam Muhyiddin Ibnu Araby memang membuat kita menjadi hati-hati dalam menjalani suluk. Berikut kami sajikan kelanjutan dari bekal yang pertama dan kedua. Marilah kita tafakkuri bersama…

TIGA

Terpenting, dari apa yang engkau butuhkan adalah akhlak mulia, karakter dan perilaku yang tepat benar; kau harus mengidentifikasi bagian dirimu yang buruk dan menghilangkan keburukan itu. Hubunganmu dengan siapapun harus berdasarkan akhlak mulia – yang disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan tipe kebutuhan tiap orang.

Barangsiapa yang menolak satu poin dari akhlak mulia, itu berarti dia masih memiliki karakter buruk. Setiap manusia diciptakan berbeda satu dengan lainnya. Level tiap orang berbeda. Karakter dan perilaku baik juga memiliki level yang berbeda. Perilaku bukanlah sebuah bentuk. Bukan juga dijalankan dalam cara yang sama pada setiap keadaan kepada setiap orang. Berperilakulah sesuai situasi dan kondisi, dan sesuai tipe kebutuhan orang dalam hubunganmu dengan seseorang atau kelompok. Indikator/ aturan perilaku baik itu adalah jika perilaku itu membawa kepada jalan keselamatan, kebenaran, kenyamanan, kedamaian, ketenangan, memberikan perlindungan, tiada menyakitkan lahir bathin dan tiada menimbulkan kesengsaraan bagi orang lain, bagi diri pribadi, dan sebisa mungkin bagi banyak orang, dimana dilakukan semata mengharapkan keridhoan Allah.

Bukankah manusia merupakan pelayan-Nya? Tiada sedikitpun bagian dari kehidupannya yang tidak bertujuankan Allah. Allah Satu-satunya Yang membatasinya. Kehendaknya, kebebasan pilihannya, dan takdirnya tertulis di dahinya, dimana Tangan Sang Kuasa berada di atas segala kehendak dan perilakunya. Allah lah tempat segala sesuatunya bergantung.

Hadits Nabi Muhammad saw., “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat shaleh maka pahalanya atas Allah. Sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang zalim. “ (TQS.42:40)

Ayat al-quran di atas menyatakan bahwa ketika kita disakiti, kita boleh membalasnya dengan hal serupa atau membiarkannya saja dengan memberikan maaf, tidak membalas, sehingga kita nanti dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang dicintai, selamat, dan benar sebagai Janji Allah.

Salah satu dari poin akhlak yang baik adalah marah dan memberikan hukuman yang adil benar (‘adil bilhaqq) sesuai hukum agama. Kemarahan dan manifestasinya (hukuman dll) merupakan dosa besar jika dilakukan berdasarkan hawa nafsu pribadi. Pergunakan marah kepada seseorang yang menantang Allah. Merupakan hal terbaik memisahkan diri dari orang-orang yang tidak sekeyakinan denganmu, yang tidak berusaha melaksanakan syariat agama dan tidak berusaha melaksanakan kebenaran, dan yang menjelek-jelekkan iman dan agamamu. Tetapi, engkau tetap tidak boleh membalas mereka dengan menjelek-jelekkan mereka. Tugasmu adalah menghindari mereka, ke luar dari barisan/ perkumpulan mereka dan masukilah sekumpulan orang-orang beriman. Habiskan waktumu dengan berzikir, memuliakan Allah dan mengabdi kepada-Nya alih-alih menghabiskan banyak perdebatan dan kekesalan bersama mereka. Layani, rawat dengan baik orang-orang yang membutuhkanmu: para pekerjamu, anak-anakmu, istri atau suamimu, ibu dan ayahmu, sanak saudaramu, teman-temanmu, dan hewan peliharaanmu, juga tanamanmu. Allah memberikan mereka semua kepada tanganmu hari ini untuk mengujimu. Engkau berada dalam perawatan-Nya. Layani dan rawat mereka sebagaimana Engkau menginginkan Al-Ahad melayani dan merawatmu.

Rasulullah Muhammad saw. bersabda, “Segala ciptaan bergantung kepada Allah.” Dia Allah memberikan amanah tanggungan berupa keluarga dll ke dalam tanganmu. Karena itu mengapa Rasul-Nya saw. berkata, “Dia yang paling dicintai Allah adalah dia yang memberikan pelayanan dan perawatan terbaik kepada orang-orang yang menjadi tanggungannya.”

Tunjukkan cinta, kasih sayang, kepekaan/ empati/ simpati, kemurahan hati, dan perlindungan kepada orang-orang yang berada dalam tanggunganmu. Jika engkau sebenar mengharapkan cinta kasih sayang Allah dan perlindungan-Nya, ingatlah bahwa sepenuhnya engkau bergantung kepada-Nya Al-Ahad, Tuhan dan Pemilik jagat raya dan seisinya.

Ajarkan kata-kata Allah yang terdapat dalam kitab suci-Nya dan akhlak mulia kepada anak-anakmu. Buatlah kondisi pengajaran yang menyenangkan agar mereka dapat mempelajarinya dengan baik. Lakukan itu tanpa mengharapkan balasan apapun dari mereka.

Pertama : ajarkan kehati-hatian/ kewaspadaan, kesabaran, berpikir yang benar.

Kedua : hati-hati jangan sampai menempatkan cinta dunia di dalam hati mereka.

Ketiga: ajari mereka untuk tidak menyukai sesuatu yang dapat menumbuhkan kebanggaan: barang mewah, pakaian bagus, makanan lezat dan minuman enak, obsesi, ambisi; Biarkan anak-anakmu mendapatkan hal pertentangan dari semua itu. Patahkan keinginan-keinginan mereka. Sesungguhnya semua hal itu akan menggiring kepada akhlak yang buruk. Sadarilah sebenar sadari hal ini. Sederhanalah, karena Kesederhanaan akan menjauhkanmu dan anak-anakmu dari akhlak yang buruk dan mendekatkan kepada akhlak mulia. Sederhanalah, lakukan dengan sebenar khusyuk dan mendekatlah kepada Allah dengan jalan-jalan ad-diin (al-iman, al-islam, al-ihsan).

Jangan berdekatan dengan mereka yang tidak mencari Allah, mereka yang menjadi budak dari keinginan-keinginan (hawa-nya nafs) dan syahwat mereka. Hati mereka jauh dari cahaya kebenaran dan mereka dilemparkan masuk ke dalam lubang kegelapan nyata, sebagaimana yang telah mereka lakukan kepada hati mereka. Jika engkau sedang berada bersama mereka, hadapi mereka dengan baik dan berilah nasihat seperlunya. Jika mereka malah menyakitimu, hal itu dikarenakan mereka tidak mengerti. Jangan membalas mereka kembali. Bagaimanapun bentuk perlakuan mereka kepadamu, sesakit apapun yang mereka berikan, tetaplah engkau berperilaku baik. Hingga kemudian saatnya nanti mereka pun menjadi suka dan menghormatimu, dan barangkali pada suatu saat nanti mereka yang tadinya menyerangmu malah mengikutimu.

Jangan pernah merasa puas dengan tingkat spiritualmu; mikraj-lah terus. Mikrajlah dengan penuh kehati-hatian, tanpa pernah berhenti. Melalui shalat yang sebenar ditujukan bagi Allah, Al-Haqq, akan membawamu kepada suatu keadaan yang akan memperkokoh kedirianmu. Dalam setiap tingkatan, dalam setiap pergerakan/ perjalanan, sedang melakukan sesuatu atau diam, selalulah jujur dan penuh iman. Selalulah bersama Al-Haqq. Jangan pernah sekalipun melupakan-Nya. Rasakanlah Kehadirannya, selalu.[]

NB:

Kami haturkan terimaksih kepada Mb Dwi Afriyanti A. atas perkenannya memuat naskah ini, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan barakahnya kepada beliau sekeluarga. ami

 

 

SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR TEMATIK

Oleh: H. Syamruddin Nst

Salaam Sahabat…

Untuk menambah wawasan Al-Quran, marilah kita simak dan pelajari tulisan berikut…

A. Pendahuluan
Ilmu tafsir sudah ada sejak nabi Muhammad SAW. Tipologi tafsir berkembang sedemikian pesat dari waktu ke waktu sesuai dengan tuntutan dan konteks. Dasar tipologi atau pengelompokkan terhadap tafsir pun berbeda-beda. Di antara pengelompokan tersebut dan sudah dikenal sejak masa
nabi Muhammad SAW adalah tafsir bi al-atsar, dan banyak yang menyebut tafsir bi al-ma’tsûr atau tafsir riwayah. Pengelompokan ini disebut corak tafsir. Corak tafsir lain adalah tafsir bi al-ra’y. Tafsir bi al-Ma’tsur adalah tafsir yang menggunakan nash dalam menafsirkan, baik al-Qur’an dengan al-Qur’an maupun al-Qur’an dengan sunnah. Dengan singkat, tafsir bi al-ma’tsur adalah tafsir antar nash. Sementara tafsir bi al-ra’y atau dikenal juga dengan tafsir dirayah adalah tafsir yang lebih mengandalkan pada ijtihad yang shahih.1)

Namun ada juga tafsir isyari dan tafsir janggal (gharaib al-tafsir). Tafsir isyari adalah penafsiran al-Qur’an yang berlainan dengan zahir ayat karena ada petunjuk yang tersirat hanya diketahui oleh sebagai ulama atau orang-orang tertentu.2) Tafsir janggal adalah tafsir yang tidak sejalan dengan tafsir pada umumnya.3) Kedua tafsir ini tidak diterima oleh umumnya ulama, hanya orang-orang tertentu yang menerimanya.45

Tafsir bi al-ma’tsûr menurut Quraish Shihab merupakan gabungan dari tiga generasi mufassir, yakni: (1) penafsir rasul, (2) penafsir sahabat, dan (3) penafsir tabi‘in. Penafsir pada tingkat sahabat adalah: (1) Ibnu ‘Abbas, (2) Ubay bin Ka‘ab, dan (3) Ibnu Mas‘ud. Generasi tabi‘in dari pilar ini
juga adalah Sa‘id bin Jubair, Mujahid bin Jabr, di Makkah yang berguru kepada Ibnu ‘Abbas; Muhammad bin Ka‘ab, Zaid bin Aslam, di Madinah, yang berguru kepada Ubay bin Ka‘ab; dan al-Hasan al-Basyri, Amir al-Sya‘bi di Irak, yang berguru kepada Ibnu Mas‘ud.6

Sementara corak tafsir muncul dengan tafsir ilmiah, tafsir sufi, tafsir politik dan sejenisnya. Disebutkan bahwa corak tafsir ini didasarkan pada keilmuwan sang penafsir dan tuntutan kehidupan masyarakat.7 Quraish Shihab menyebutnya corak penafsiram, yakni: corak sastra basah, corak
filsafat teologi, corak penafsiran ilmiah, corak tasauf, dan corak sastra budaya kemasyarakatan. Corak sastra budaya kemasyarakatan, menurut Quraish, digagas oleh Muhamad Abduh dan menyebabkan corak lain menurun.8 Kalau dicermati lebih jauh, corak tafsir ini merupakan
melanjutan dari tafsir bi al-ra’y. Jadi, tafsir bi al-ra’y muncul dalam banyak corak sesuai dengan
keahlian sang penafsir.

Pengelompokkan lain terhadap tafsir adalah berdasarkan pada metode yang digunakan, dan ilmuwan membaginya secara umum menjadi tiga, yakni: (1) tafsir analisis (tahlili), (2) tafsir tematik (maud}û‘i), dan (3) tafsir holistik (kullî). Namun ada juga yang menambah tafsir muqaran (tafsir perbandingan). Maksud tafsir tah}lîlî atau ijmâli atau juz’î adalah metode kajian al-Qur’an dengan menganalisis secara kronologis dan memaparkan berbagai aspek yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan urutan bacaan yang terdapat dalam urutan mush}af ‘Uthmânî. Ternyata
menurut sejumlah ilmuwan, metode yang sebagian ilmuan menyebutnya dengan metode kajian atomistik atau metode kajian yang bersifat parsial ini memiliki beberapa kelemahan.

Quraish Shihab berpendapat, satu akibat dari pemahaman al-Qur’an berdasar ayat demi ayat secara terpisah adalah al-Qur’an terlihat seolah sebagai petunjuk yang terpisah-pisah.9 Metode ini juga disebut tafsir analisis.10

Adapun tafsir tematik secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu: (1) tematik berdasar surah al-Qur’an; dan (2) tematik berdasar subyek. Tematik berdasarkan surah al-Qur’an adalah menafsirkan al-Qur’an dengan cara membahas satu surah tertentu dari al-Qur’an dengan mengambil
bahasan pokok dari surat dimaksud. Sementara tematik subjek adalah menafsirkan al-Qur’an dengan cara menetapkan satu subjek tertentu untuk dibahas. Misalnya ingin mengetahui bagaimana konsep zakat menurut Islam, metode tematik ini dapat digunakan.

Berdasarkan uraian di atas maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah bagaimana sejarah dan perkembangan tafsir tematik dan apa langkah-langkah yang ditempuh dalam menerapkan metode tafsir tematik dan bagaimana keistimewaan tafsir tematik dalam menuntaskan
persoalan-persoalan masyarakat kontemporer.

B.Sejarah dan Perkembangan Tafsir Tematik

Menurut catatan Quraish, tafsir tematik berdasarkan surah digagas pertama kali oleh seorang guru besar jurusan Tafsir, fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar, Syaikh Mahmud Syaltut, pada Januari 1960. Karya ini termuat dalam kitabnya, Tafsir al-Qur’an al-Karim. Sedangkan tafsir
maudu‘i berdasarkan subjek digagas pertama kali oleh Prof. Dr. Ahmad Sayyid al-Kumiy, seorang guru besar di institusi yang sama dengan Syaikh Mahmud Syaltut, jurusan Tafsir, fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar, dan menjadi ketua jurusan Tafsir sampai tahun 1981.

Model tafsir ini digagas pada tahun seribu sembilan ratus enam puluhan.11 Buah dari tafsir model ini menurut Quraish Shihab di antaranya adalah karya-karya Abbas Mahmud al-Aqqad, al-Insân fî al-Qur’ân, al-Mar’ah fî al-Qur’ân, dan karya Abul A’la al-Maududi, al-Ribâ fî al-Qur’ân.12 Kemudian tafsir model ini dikembangkan dan disempurnakan lebih sistematis oleh Prof. Dr. Abdul Hay al-Farmawi, pada tahun 1977, dalam kitabnya al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudu‘i: Dirasah Manhajiyah Maudu‘iyah.13

Namun kalau merujuk pada catatan lain, kelahiran tafsir tematik jauh lebih awal dari apa yang dicatat Quraish Shihab, baik tematik berdasar surah maupun berdasarkan subjek. Kaitannya dengan tafsir tematik berdasar surah al-Qur’an, Zarkashi (745-794/1344-1392), dengan karyanya al-
Burhân,14 misalnya adalah salah satu contoh yang paling awal yang menekankan pentingnya tafsir yang menekankan bahasan surah demi surah. Demikian juga Suyût}î (w. 911/1505) dalam karyanya al-Itqân.15

Sementara tematik berdasar subyek, diantaranya adalah karya Ibn Qayyim al-Jauzîyah (1292-1350H.), ulama besar dari mazhab H{anbalî, yang berjudul al-Bayân fî Aqsâm al-Qur`ân; Majâz al-Qur`ân oleh Abû ‘Ubaid; Mufradât al-Qur`ân oleh al-Râghib al-Isfahânî; Asbâb al-Nuzûl oleh Abû
al-H{asan al-Wah}îdî al-Naisâbûrî (w. 468/1076), dan sejumlah karya dalam Nâsikh wa al-Mansûkh, yakni;

(1) Naskh al-Qur`ân oleh Abû Bakr Muh}ammad al-Zuhrî (w. 124/742),

(2) Kitâb al-Nâsikh wa al-Mansûkh fî al-Qur`ân al-Karîm oleh al-Nah}h}âs (w. 338/949),

(3) al-Nâsikh wa al-Mansûkh oleh Ibn Sal>amâ (w. 410/1020),

(4) al-Nâsikh wa al-Mansûkh oleh Ibn al-‘Atâ`iqi (w.s. 790/1308),

(5) Kitâb al-Mujâz fî al-Nâsikh wa al-Mansûkh oleh Ibn Khuzayma al-Fârisî.16

Sebagai tambahan, tafsir Ah}kâm al-Qur`ân karya al-Jas}s}âs} (w. 370 H.), adalah contoh lain dari tafsir semi tematik yang diaplikasikan ketika menafsirkan seluruh al-Qur’an. Karena itu, meskipun tidak fenomena umum, tafsir tematik sudah diperkenalkan sejak sejarah awal tafsir. Lebih jauh, perumusan konsep ini secara metodologis dan sistematis berkembang di masa kontemporer. Demikian juga jumlahnya semakin bertambah di awal abad ke 20, baik tematik berdasarkan surah al-Qur’an maupun tematik berdasar subyek/topik.

C.Langkah-Langkah Menerapkan Metode Tafsir Tematik


Menurut Abdul Hay Al-Farmawiy dalam bukunya Al-Bidayah fi Al-Tafsir Al-mawdhu’i secara rinci menyeabutkan ada tujuh langkah yang ditempauh dalam menerapkan metode tematik ini, yaitu ;
(1) Menetapkan masalah yang akan dibahas ( topik )
(2) Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah terseabut ;
(3) Menyusun runtutan ayat sesuai masa turunnya.disertai pengetahuan tentang azbabun nuzulnya;
(4) Memahami kolerasi ayat-ayat tersebut dalam surahnya masing-masing;
(5) Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna;
(6) Melengkapi pembahasan dengan hadis-hadis yang relevan dengan pokok pembahasan;
(7) Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-ayatnya yang mempunyai pengertian yang sama, atau mengkompromikan antara yang ‘am ( umum) dan yang khash (khusus), muthlak dan muqayyad, atau yang pada lahirnya
bertentangan, sehingga kesemuanya bertemu dalam satu muara, tanpa perbedaan17

Sementara menurut M.Quraish Shihab ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan didalam
menerapkan metode tematik ini.Antara lain;
(1) Penetapan masalah yang dibahas.
Walaupun metode ini dapat menampaung semua masalah yang diajukan namun akan lebih baik apabila permasalahan yang dibahas itu diproritaskan pada persoalan yang langsung menyentuh dan dirasakan oleh masyarakat, misalnya petunjuk Al-Qur’an tentang kemiskinan, keterbelakangan,
penyakit dan lain-lainnya. Dengan demikian, metode penafsiran semacam ini langsung memberi jawaban terhadap problem masyarakat tertentu di tempat tertentu pula.
(2) Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya.
Bagi mereka yang bermaksud menguraikan suatu kisah atau kejadian maka runtutan yang dibutuhkan adalah runtutan kronologis peristiwa.
(3) Kesempurnaan metode tematik dapat dicapai apabila sejak dini sang mufassir berusaha memahami arti kosakata ayat dengan merujuk kepada penggunaan Al-Qur’an sendiri.Hal ini dapat dinilai sebagai pengembangan dari tafsir bi al-ma’tsur yang pada hakikatnya merupakan benih
awal dari metode tematik 18

Dari uraian di atas, baik yang dikemukakan Abdul Hay Al-farmawiy maupun M.Quraish Shihab sama-sama sependapat bahwa langkah awal yang ditempuh dalam mempergunakan metode tafsir tematik adalah menetapkan topik atau masalah yang akan dibahas kemudian menghimpun ayat-ayat yang mempunyai pengertian yang sama dengan topik dan dilengkapi dengan hadis-hadis yang relevan dengan pokok bahasan dan yang perlu dicatat topik yang dibahas diusahakan pada persoalan yang langsung menyentuh kepentingan msyarakat. agar Al-Qur’an sebagai petunjuk
hidup dapat memberi jawaban terhadap problem masyarakat itu.

D.Keistimewaan Tafsir Tematik Menuntaskan Persoalan Masyarakat Kontemporer


Dari paparan di atas dapat diketahui bahwa tafsir tematik mempunyai keistimewaan di dalam menuntaskan persoalan-persoalan masyarakat dibandingkan metode lainnya, antara lain,

(a) menafsirkan ayat dengan ayat atau dengan hadis Nabi adalah suatu cara terbaik di dalam menafsirkan Al-Qur’an,

(b) kesimpulan yang dihasilkan oleh metode tematik mudah dipahami. Hal ini disebabkan ia membawa pembaca kepada petunjuk Al-Qur’an tanpa mengemukakan berbagai pembahasan terperinci dalam satu disiplin ilmu.Dengan demikian ia dapat membawa kita kepada pendapat Al-Qur’an tentang berbagai problem hidup disertai dengan jawaban-jawabannya. Hal ini membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk hidup.

(c) metode ini memungkinkan seseorang untuk menolak anggapan adanya ayat-ayat yang bertentangan dalam Al-Qura’an, sekaligus membuktikan bahwa Al-Qur’an sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat19.

E.Penutup


Dari uraian yang dikemukakan di atas dapat diketahui bahwa sejarah munculnya tafsir tematik berdasarkan surah digagas pertama kali oleh seorang guru besar Al-Azhar Syaikh Mahmud Syaltut, pada tahun 1960, sedangkan berdasarkan tema digagas pertama kali oleh Prof.Dr. Ahmad Sayyid al-
Kumiy dan disempurnakan lebih sistematis oleh Prof.Dr.Abdul Hay Al-Farmawiy, pada tahun 1977.

Langkah yang dilakukan dalam metode tematik ini adalah menetapkan masalah yang akan dibahas, menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tersebut, melengkapi ayat-ayat dengan hadis-hadis yang relevan dengan topik pembahasan kemudian dibahas dan disimpulkan.
Keistimewaan tafsir metode tematik adalah menafsirkan ayat dengan ayat atau dengan hadis Nabi merupakan cara terbaik dalam menafsirkan Al-Qur’an, sementara itu kesimpulan yang diambil mudah dipahami tanpa mengemukakan berbagai pembahasan terperinci dalam satu disiplin ilmu
dan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup secara konkrit dapat menjawab problem-problem yang dihadapi masyarakat.[]

Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW

Salaam Sahabats…

Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad adalah satu di antara peristiwa agung dalam penciptaan makhluk serta kejadian di alam semesta ini. Allah SWT menggambarkan peristiwa ini dalam firman-Nya,

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (TQS.17: 1)

“Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (TQS.53:13-18)

Sebenarnya keagungan dan keluar-biasaan Allah SWT dalam penciptaan ini sungguh dapat menguji keimanan kita terhadap kesempurnaan penciptaan Allah. Bila kita lebih tergerus aktivitas sehari-hari, dan menganggap bahwa Isra’ Mi’raj hanya sekedar masa lalu dan catatan sejarah Rasulullah SAW saja, maka kita hendaknya perlu mencermati keyakinan keimanan kita. Ada apa dengan keyakinan kita terhadap Kemahasempurnaan ciptaan Allah?

Marilah kita simak dan renungkan informasi tentang Isra’ Mi’raj dari Rasulullah SAW. Dalam mengikuti ayat Al-Quran dan Hadits berkenaan dengan peristiwa ini kami menghimbau kita agar belajar menempatkan penalaran kita di bawah keimanan (qalbu), selamat mencoba…

Berikut ini adalah kisah-kisah Isra Mi’raj yang sesuai hadist-hadist Shahih.

1. Qatadah: Telah mengisahi kami Anas bin Malik, dari Malik bin Sha’sha’ah ra, ia telah berkata: Telah bersabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: “Ketika aku di al-Bait (yaitu Baitullah atau Ka’bah) antara tidur dan jaga”, kemudian beliau menyebutkan tentang seorang lelaki di antara dua orang lelaki. “Lalu didatangkan kepadaku bejana dari emas yang dipenuhi dengan kebijaksanaan dan keimanan. Kemudian aku dibedah dari tenggorokan hingga perut bagian bawah. Lalu perutku dibasuh dengan Air Zam Zam, kemudian diisi dengan kebijaksanaan (hikmah) dan keimanan. Dan didatangkan kepadaku binatang putih yang lebih kecil dari kuda dan lebih besar dari baghal (peranakan kuda dan keledai), yaitu Buraq.” (HR al-Bukhari :3207).

2. Hadis riwayat Malik bin Sha`sha`ah ra., ia berkata: Nabi saw. bersabda,

“Ketika aku sedang berada di dekat Baitullah antara tidur dan jaga, tiba-tiba aku mendengar ada yang berkata: Salah satu dari tiga yang berada di antara dua orang. Lalu aku didatangi dan dibawa pergi. Aku dibawakan bejana dari emas yang berisi air Zamzam. Lalu dadaku dibedah hingga ini dan ini. Qatadah berkata: Aku bertanya: Apa yang beliau maksud? Anas menjawab: Hingga ke bawah perutnya. Hatiku dikeluarkan dan dicuci dengan air Zamzam, kemudian dikembalikan ke tempatnya dan mengisinya dengan iman dan hikmah. Lalu aku didatangi binatang putih yang disebut Buraq, lebih tinggi dari khimar dan kurang dari bighal, ia meletakkan langkahnya pada pandangannya yang paling jauh. Aku ditunggangkan di atasnya. Lalu kami berangkat hingga ke langit dunia. (Sampai di sana) Jibril minta dibukakan. Dia ditanya: Siapa ini? Jibril menjawab Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad saw. jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Ya, jawabnya. Malaikat penjaga itu membukakan kami dan berkata: Selamat datang padanya. Sungguh, merupakan kedatangan yang baik. Lalu kami datang kepada Nabi Adam as. (selanjutnya seperti kisah pada hadis di atas). Anas menjelaskan bahwa Rasulullah bertemu dengan Nabi Isa as. dan Nabi Yahya as. di langit kedua, di langit ketiga dengan Nabi Yusuf as. di langit keempat dengan Nabi Idris as. di langit kelima dengan Nabi Harun as. Selanjutnya Rasulullah saw. bersabda: Kemudian kami berangkat lagi. Hingga tiba di langit keenam. Aku datang kepada Nabi Musa as. dan mengucap salam kepadanya. Dia berkata: Selamat datang kepada saudara dan nabi yang baik. Ketika aku meninggalkannya, ia menangis. Lalu ada yang berseru: Mengapa engkau menangis? Nabi Musa menjawab: Tuhanku, orang muda ini Engkau utus setelahku, tetapi umatnya yang masuk surga lebih banyak daripada umatku. Kami melanjutkan perjalanan hingga langit ketujuh. Aku datang kepada Nabi Ibrahim as. Dalam hadis ini dituturkan, Nabi saw. bercerita bahwa beliau melihat empat sungai. Dari hilirnya, keluar dua sungai yang jelas dan dua sungai yang samar. Aku (Rasulullah saw.) bertanya: Hai Jibril, sungai apakah ini? Jibril menjawab: Dua sungai yang samar adalah dua sungai di surga, sedangkan yang jelas adalah sungai Nil dan Furat. Selanjutnya aku diangkat ke Baitulmakmur. Aku bertanya: Hai Jibril, apa ini? Jibril menjawab: Ini adalah Baitulmakmur. Setiap hari, tujuh puluh ribu malaikat masuk ke dalamnya. Apabila mereka keluar, tidak akan masuk kembali. Itu adalah akhir mereka masuk. Kemudian aku ditawarkan dua bejana, yang satu berisi arak dan yang lain berisi susu. Keduanya disodorkan kepadaku. Aku memilih susu. lalu dikatakan: Tepat! Allah menghendaki engkau (berada pada fitrah, kebaikan dan keutamaan). Begitu pula umatmu berada pada fitrah. Kemudian diwajibkan atasku salat lima puluh kali tiap hari. Demikian kisah seterusnya sampai akhir hadis.” (Shahih Muslim No.238)

3.Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Bahwa Rasulullah saw. bersabda,

“Aku didatangi Buraq. Lalu aku menunggangnya sampai ke Baitulmakdis. Aku mengikatnya pada pintu masjid yang biasa digunakan mengikat tunggangan oleh para nabi. Kemudian aku masuk ke masjid dan mengerjakan salat dua rakaat. Setelah aku keluar, Jibril datang membawa bejana berisi arak dan bejana berisi susu. Aku memilih susu, Jibril berkata: Engkau telah memilih fitrah.

Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril minta dibukakan, ada yang bertanya: Siapakah engkau? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa yang bersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawab Jibril: Ya, ia telah diutus. Lalu dibukakan bagi kami. Aku bertemu dengan Adam. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapakah engkau? Jawab Jibril: Jibril. Ditanya lagi: Siapakah yang bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Pintu pun dibuka untuk kami. Aku bertemu dengan Isa bin Maryam as. dan Yahya bin Zakaria as. Mereka berdua menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa engkau? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad saw. jawabnya. Ditanyakan: Dia telah diutus? Dia telah diutus, jawab Jibril. Pintu dibuka untuk kami. Aku bertemu Yusuf as. Ternyata ia telah dikaruniai sebagian keindahan. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keempat. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa ini? Jibril menjawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jibril menjawab: Dia telah diutus. Kami pun dibukakan. Ternyata di sana ada Nabi Idris as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah Taala berfirman Kami mengangkatnya pada tempat (martabat) yang tinggi.

Aku dibawa naik ke langit kelima. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Dijawab: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Dijawab: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Di sana aku bertemu Nabi Harun as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keenam. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Di sana ada Nabi Musa as. Dia menyambut dan mendoakanku dengan kebaikan. Jibril membawaku naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan. Lalu ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanyakan: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Ternyata di sana aku bertemu Nabi Ibrahim as. sedang menyandarkan punggungnya pada Baitulmakmur. Ternyata setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitulmakmur dan tidak kembali lagi ke sana.

Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratul-Muntaha yang dedaunannya seperti kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempayan. Ketika atas perintah Allah, Sidratul Muntaha diselubungi berbagai macam keindahan, maka suasana menjadi berubah, sehingga tak seorang pun di antara makhluk Allah mampu melukiskan keindahannya. Lalu Allah memberikan wahyu kepadaku. Aku diwajibkan salat lima puluh kali dalam sehari semalam. Tatkala turun dan bertemu Nabi saw. Musa as., ia bertanya: Apa yang telah difardukan Tuhanmu kepada umatmu? Aku menjawab: Salat lima puluh kali. Dia berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan kuat melaksanakannya. Aku pernah mencobanya pada Bani Israel. Aku pun kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai Tuhanku, berilah keringanan atas umatku. Lalu Allah mengurangi lima salat dariku. Aku kembali kepada Nabi Musa as. dan aku katakan: Allah telah mengurangi lima waktu salat dariku. Dia berkata: Umatmu masih tidak sanggup melaksanakan itu. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi. Tak henti-hentinya aku bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa as. sampai Allah berfirman: Hai Muhammad. Sesungguhnya kefarduannya adalah lima waktu salat sehari semalam. Setiap salat mempunyai nilai sepuluh.

Dengan demikian, lima salat sama dengan lima puluh salat. Dan barang siapa yang berniat untuk kebaikan, tetapi tidak melaksanakannya, maka dicatat satu kebaikan baginya. Jika ia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barang siapa yang berniat jahat, tetapi tidak melaksanakannya, maka tidak sesuatu pun dicatat. Kalau ia jadi mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa as., lalu aku beritahukan padanya. Dia masih saja berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Aku menyahut: Aku telah bolak-balik kepada Tuhan, hingga aku merasa malu kepada-Nya.” (Shahih Muslim No.234)

4. Anas bin Malik r.a. berkata, “Abu Dzarr r.a. menceritakan bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda,

‘Dibukalah atap rumahku dan aku berada di Mekah. Turunlah Jibril a.s. dan mengoperasi dadaku, kemudian dicucinya dengan air zamzam. Ia lalu membawa mangkok besar dari emas, penuh dengan hikmah dan keimanan, lalu ditumpahkan ke dalam dadaku, kemudian dikatupkannya.

Ia memegang tanganku dan membawaku ke langit dunia. Ketika aku tiba di langit dunia, berkatalah Jibril kepada penjaga langit, ‘Bukalah.’ Penjaga langit itu bertanya, ‘Siapakah ini?’ Ia (jibril) menjawab, ‘Ini Jibril.’ Penjaga langit itu bertanya, ‘Apakah Anda bersama seseorang?’ Ia menjawab, ‘Ya, aku bersama Muhammad saw.’ Penjaga langit itu bertanya, ‘Apakah dia diutus?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Ketika penjaga langit itu membuka, kami menaiki langit dunia. Tiba tiba ada seorang laki-laki duduk di sebelah kanannya ada hitam-hitam (banyak orang) dan disebelah kirinya ada hitam-hitam (banyak orang).

Apabila ia memandang ke kanan, ia tertawa, dan apabila ia berpaling ke kiri, ia menangis, lalu ia berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan anak laki-laki yang saleh.’ Aku bertanya kepada Jibril, ‘Siapakah orang ini?’ Ia menjawab, ‘Ini adalah Adam dan hitam-hitam yang di kanan dan kirinya adalah adalah jiwa anak cucunya. Yang di sebelah kanan dari mereka itu adalah penghuni surga dan hitam-hitam yang di sebelah kirinya adalah penghuni neraka.’ Apabila ia berpaling ke sebelah kanannya, ia tertawa, dan apabila ia melihat ke sebelah kirinya, ia menangis, sampai Jibril menaikkan aku ke langit yang ke dua, lalu dia berkata kepada penjaganya, ‘Bukalah.’ Berkatalah penjaga itu kepadanya seperti apa yang dikatakan oleh penjaga pertama, lalu penjaga itu membukakannya.”

 Anas berkata, “Beliau menyebutkan bahwasanya di beberapa langit itu beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, Isa, dan Ibrahim shalawatullahi alaihim, namun beliau tidak menetapkan bagaimana kedudukan (posisi) mereka, hanya saja beliau tidak menyebutkan bahwasanya beliau bertemu dengan Adam di langit dunia dan Ibrahim di langit keenam.” Anas berkata, “Ketika Jibril a.s. bersama Nabi Muhammad saw melewati Idris, Idris berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan saudara laki-laki yang saleh.’ Aku (Rasulullah) bertanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Idris.’ Aku melewati Musa lalu ia berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan saudara yang saleh.’ Aku bertanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Musa.’ Aku lalu melewati Isa dan ia berkata, ‘Selamat datang saudara yang saleh dan Nabi yang saleh.’ Aku bertanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Isa.’ Aku lalu melewati Ibrahim, lalu ia berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan anak yang saleh.’ Aku bertanya,’Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Ibrahim as..’” (HR. Bukhari no. 192)

5. Ibnu Syihab berkata, “Ibnu Hazm memberitahukan kepadaku bahwa Ibnu Abbas dan Abu Habbah al-Anshari berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda,

‘Jibril lalu membawaku naik sampai jelas bagiku Mustawa. Di sana, aku mendengar goresan pena-pena.’ Ibnu Hazm dan Anas bin Malik berkata bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, ‘Allah Azza wa Jalla lalu mewajibkan atas umatku lima puluh shalat (dalam sehari semalam). Aku lalu kembali dengan membawa kewajiban itu hingga kulewati Musa, kemudian ia (Musa) berkata kepadaku, ‘Apa yang diwajibkan Allah atas umatmu?’ Aku menjawab, ‘Dia mewajibkan lima puluh kali shalat (dalam sehari semalam).’ Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat atas yang demikian itu.’ Allah lalu memberi dispensasi (keringanan) kepadaku (dalam satu riwayat: Maka aku kembali dan mengajukan usulan kepada Tuhanku), lalu Tuhan membebaskan separonya. ‘Aku lalu kembali kepada Musa dan aku katakan, ‘Tuhan telah membebaskan separonya.’ Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu karena sesungguhnya umatmu tidak kuat atas yang demikian itu. ‘Aku kembali kepada Tuhanku lagi, lalu Dia membebaskan separonya lagi. Aku lalu kembali kepada Musa, kemudian ia berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat atas yang demikian itu.’ Aku kembali kepada Tuhan, kemudian Dia berfirman, ‘Shalat itu lima (waktu) dan lima itu (nilainya) sama dengan lima puluh (kali), tidak ada firman yang diganti di hadapan Ku.’ Aku lalu kembali kepada Musa, lalu ia berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu.’ Aku jawab, ‘(Sungguh) aku malu kepada Tuhanku.’ Jibril lalu pergi bersamaku sampai ke Sidratul Muntaha dan Sidratul Muntaha itu tertutup oleh warna-warna yang aku tidak mengetahui apakah itu sebenarnya? Aku lalu dimasukkan ke surga. Tiba-tiba di sana ada kail dari mutiara dan debunya adalah kasturi.’”(HR. Bukhari no. 193, 194)

6.Aisyah r.a. berkata, “Allah Ta’ala memfardhukan shalat ketika difardhukan-Nya dua rakaat-dua rakaat, baik di rumah maupun dalam perjalanan. Selanjutnya, dua rakaat itu ditetapkan shalat dalam perjalanan dan shalat di rumah ditambah lagi (rakaatnya).” (Dalam satu riwayat: Kemudian Nabi Muhammad saw. hijrah, lalu difardhukan shalat itu menjadi empat rakaat dan dibiarkan shalat dalam bepergian sebagaimana semula, 4/267).(HR. Bukhari no. 195)

7.Dari Anas bin Malik, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW, “Aku didatangi mereka (malaikat), kemudian mengajakku ke Sumur Zam Zam. Lalu dadaku dibedah, kemudian dibasuh dengan Air Zam Zam. Lalu aku dikembalikan.” (HR Muslim (162.2), Kitab Iman, Bab Isra’)

8. Dari Ibnu Abbas, ia telah berkata: “Ketika Nabi SAW diisra`kan, beliau melewati seorang nabi dan beberapa nabi, dan bersama mereka ada banyak orang. Dan seorang nabi dan beberapa nabi, dan bersama mereka beberapa orang. Dan seorang nabi dan beberapa nabi, dan bersama mereka tidak ada seorangpun sampai beliau melewati kelompok yang besar. Aku berkata: Siapa Ini? Dijawablah (oleh Jibril): Musa dan kaumnya. Akan tetapi angkatlah kepalamu, kemudian lihatlah! Kemudian ada kelompok besar yang memenuhi ufuk dari sebelah sana dan dari sebelah sana. Lalu dikatakan (oleh Jibril): Mereka adalah umatmu dan yang lainnya adalah kelompok dari umatmu yang berjumlah tujuh puluh ribu (70.000) orang yang akan masuk surga tanpa hisab (perhitungan amal). Kemudian beliau masuk (ke kamar beliau) dan mereka (para sahabat) tidak menanyai beliau dan beliau tidak menerangkan kepada mereka. Maka mereka berkata: “Kami adalah mereka itu tadi”. Dan ada pula yang berkata: “Mereka adalah anak-anak kami yang lahir dalam fitrah dan Islam”. Kemudian Nabi SAW keluar, lalu bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan besi panas, tidak meruqyah, dan tidak pula bertakhayul (tathayyur). Dan mereka bertawakal kepada Tuhan mereka. Lantas Ukasyah bin Mihshan berdiri lalu berkata: Saya termasuk mereka wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Ya. Kemudian yang lain lagi berdiri lalu berkata pula: Saya termasuk mereka?” Beliau menjawab: Kamu telah didahului oleh Ukasyah (dalam bertanya demikian).” (HR at-Tirmidzi: 2446). Beliau berkata: “Ini adalah hadits hasan shahih”.

Dalam hadits ini terdapat tambahan seorang sahabat lagi yang mendapat kabar gembira akan masuk surga, yaitu Ukasyah bin Mihshan.

9. Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Rasulullah saw. menuturkan perjalanan Isra’nya. Beliau bersabda,“Nabi Musa as. berkulit sawo matang, tingginya seperti lelaki Syanu’ah (nama kabilah). Beliau bersabda pula: Nabi Isa as. itu gempal, tingginya sedang. Beliau juga menuturkan tentang Malik as. penjaga Jahanam dan Dajjal.” (Shahih Muslim No.239)

10. Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Nabi saw. bersabda,

“Ketika aku diisra’kan, aku bertemu dengan Nabi Musa as., ia seorang lelaki yang tinggi kurus dengan rambut berombak, seperti seorang Bani Syanu’ah. Aku juga bertemu dengan Nabi Isa as. ia berperawakan sedang, berkulit merah, seakan-akan baru keluar dari pemandian. Aku bertemu dengan Nabi Ibrahim as. Akulah keturunannya yang paling mirip dengannya. Lalu aku diberi dua bejana, yang satu berisi susu dan yang lain berisi arak. Dikatakan padaku: Ambillah yang engkau suka. Aku mengambil susu dan meminumnya. Kemudian dikatakan: Engkau diberi petunjuk dengan fitrah atau engkau menepati fitrah. Seandainya engkau mengambil arak, niscaya sesat umatmu.” (Shahih Muslim No.245)

11. Anas berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW,“Tidaklah aku melewati sekelompok malaikat pada malam aku diisra`kan kecuali mereka berkata: Wahai Muhammad, suruhlah umatmu berbekam.”
HR Ibnu Majah (3479), Kitab Pengobatan, Bab Bekam. Disahkan al-Albani dalam Shahih al-Jami` (II: 5671), dan Takhrij al-Misykat (4544).

12. Dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda:

“Tidaklah aku melewati sekelompok malaikat pada malam aku diisra`kan kecuali tiap mereka berkata kepadaku: Wajib bagimu wahai Muhammad untuk berbekam.” HR Ibnu Majah (3477), Kitab Pengobatan, Bab Bekam. Dishahihkan al-Albani dalam ash-Shahihah (V: 2263) dan Shahih al-Jami` (II: 5672).

13. Dari Ibnu Mas’ud, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW,

“Aku bertemu Ibrahim pada malam aku diisra’kan. Iapun bertanya: “Wahai Muhammad, suruhlah umatmu mengucapkan salam kepadaku, dan kabarkanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya surga subur tanahnya, manis airnya, dan terhampar luas. Dan bahwasanya tanamannya adalah (ucapan dzikir) Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar.”” HR at-Tirmidzi (3462), Kitab Doa-Doa dari Rasulullah, Bab Dalil tentang Keutamaan Tasbih, Takbir, Tahlil, dan Tahmid.

Beliau berkata: Ini adalah hadits hasan gharib dari sisi ini dari hadits Ibnu Mas’ud. Dihasankan al-Albani dalam ash-Shahihah (I:105) dengan dua syahid (penguat) dari hadits Ibnu ‘Umar dan hadits Abu Ayyub al-Anshari.

14. Dari Abu Hurairah, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW,

“….. Dan sungguh telah diperlihatkan kepadaku jama’ah para nabi. Adapun Musa, dia sedang berdiri shalat. Dia lelaki tinggi kekar seakan-akan dia termasuk suku Sanu’ah. Dan ada pula ‘Isa bin Maryam alaihi`ssalam sedang berdiri shalat. Manusia yang paling mirip dengannya adalah ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi. Ada pula Ibrahim ‘alaihi`ssalam sedang berdiri shalat. Orang yang paling mirip dengannya adalah sahabat kalian ini, yakni beliau sendiri. Kemudian diserukanlah shalat. Lantas aku mengimami mereka. Seusai shalat, ada yang berkata (Jibril): “Wahai Muhammad, ini adalah Malik, penjaga neraka. Berilah salam kepadanya!” Akupun menoleh kepadanya, namun dia mendahuluiku memberi salam.” HR Muslim (172).

15. Dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda,“Pada malam aku diisra’kan aku melewati Musa di gundukan tanah merah ketika dia sedang shalat di dalam kuburnya.” HR Muslim (2375), Kitab Keutamaan-Keutamaan, Bab Sebagian Keutamaan Musa.

16. Dari Abu al-’Aliyah: Telah mengisahi kami sepupu Nabi kalian, yaitu Ibnu ‘Abbas radhiya`llahu ‘anhuma, dari Nabi SAW, beliau telah bersabda,

“Pada malam aku diisra’kan aku telah melihat Musa, seorang lelaki berkulit sawo matang, tinggi kekar, seakan-akan dia adalah lelaki Suku Syanu’ah. Dan aku telah melihat ‘Isa, seorang lelaki bertinggi sedang, berambut lurus. Dan aku juga telah melihat Malaikat Penjaga Neraka dan Dajjal” termasuk ayat yang telah diperlihatkan Allah kepada beliau. {maka janganlah kamu ragu tentang pertemuan dengannya (yaitu Musa) (as-Sajdah, 32: 23)}.”

17. Dari Anas dan Abu Bakrah, dari Nabi SAW, “Malaikat-malaikat kota Madinah berjaga-jaga dari Dajjal.” (HR al-Bukhari: 3239), Kitab Permulaaan Penciptaan, Bab Penyebutan Malaikat.

18. Abu Hurairah telah berkata: Pada malam beliau diisra`kan, disodorkan kepada Rasulullah SAW dua gelas minuman: khamr (minuman keras) dan susu. Beliaupun melihat keduanya, lalu mengambil susu. Jibril berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki engkau kepada fitrah. Seandainya engkau mengambil khamr, niscaya binasalah umatmu.” HR al-Bukhari (4709), Kitab Tafsir al-Qur’an, Bab Firmannya {yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram (al-Isra’, 17: 1)}.

19. Dari Abu Hurairah, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW,

“Ketika aku diisra`kan, aku bertemu Musa. Dia berkata: Kemudian beliau menyifatkannya. Dia adalah lelaki, aku mengira beliau bersabda: Kurus, agak tinggi. Rambutnya ikal, seakan-akan dari suku Syanu’ah. Beliau bersabda: Dan aku bertemu ‘Isa. Dia berkata: Kemudian beliau menyifatkannya. Beliau bersabda: Tingginya sedang, berkulit kemerahan, seperti baru keluar dari Dimas, yaitu pemandian. Dan aku telah melihat Ibrahim. Beliau bersabda: Dan aku adalah keturunannya yang paling mirip dengannya. Beliau bersabda: Dan disodorkan kepadaku dua gelas minuman. Salah satunya susu, dan yang lain khamr. Kemudian dikatakan kepadaku: Ambillah yang mana dari keduanya yang engkau kehendaki! Akupun mengambil susu, kemudian meminumnya. Lalu dikatakan kepadaku: “Engkau telah ditunjuki kepada fitrah” atau “Engkau telah menepati fitrah. Adapun sungguh seandainya engkau mengambil khamr, niscaya binasalah umatmu.” (HR at-Tirmidzi :3130), Kitab Tafsir al-Qur`an dari Rasulullah, Bab Dan Dari Surah Bani Isra`il. Beliau berkata: “Ini adalah hadits hasan shahih.”

Nah, sahabats..

Sekarang berpulang kepada kita sendiri dalam mencerna dan mengmbil pelajaran dan hikmah dari yang Allah alamkan kepada Rasulullah SAW, apakah kita menjadi hamba yang sepenuhnya mampu mensyukuri nikmat informasi ini, ataukah kita menjadi hamba yang tergerus oleh aktivitas rutin kita sehari-hari yang tak kan pernah berakhir?

Wallahu a’lam bi shawwab.[]

Shaum Sunnah Bulan Rajab

Salaam Sahabats…

Masih dalam rangka mensyukuri umur kita yang hingga saat ini masih diberi nafas untuk menikati hidup ini, kami sajikan ke hadapan sahabats sedikit informasi tentang keutamaan shaum di bulan Rajab yang kami kutip dari buku “KEAGUNGAN RAJAB & SYA’BAN” karya Ustadz Abdul Manan bin H. Muhammad Sobari tentang Sham Sunnah di Bulan Rajab yang beliau merujuk dari Kitab Durratun Nashihin.

Semoga memberikam limpahan rahmat-Nya kepada Ustadz Abdul Manan serta bagi kita semua…

Dalam kitab Durratun Nashihin dituliskan bahwa barangsiapa melakukan shaum sunnah pada bulan Rajab, maka akan dihapus dosanya. Abu Muhammad Al-Khalaali ra. telah menceritakan tentang keutamaan bulan Rajab bahwa Ibnu Abbas ra. pernah berkata:“Shaum di hari pertama bulan Rajab, menghilangkan/menghapus dosa tiga tahun, dan di hari kedua menghapus dosa dua tahun, dan pada hari ketiga menghapus dosa setahun. Kemudian puasa setiap hari bulan Rajab menghapus dosa sebulan.” (Durratun Nashihin I:163-164)

Nabi saw. bersabda:“Hai Salman, demi kebenaran kebangkitanku menjadi Nabi, tiada seorang muslim laki-laki dan perempuan yang shaum (meskipun hanya) satu hari dan shalat malam pada bulan Rajab dengan maksud ikhlas (lillahi Ta’ala) semata, kecuali Allah mencatat baginya seperti shaum setahun dan mengerjakan shalat malam satu tahun.” (Durratun Nashihin I:167)

Rasulullah saw. bersabda lagi:“Sesungguhnya di dalam sorga terdapat sebuah sungai yang namanya Rajab, airnya lebih putih dari pada susu, lebih manis dari pada madu. Barangsiapa shaum satu hari di bulan Rajab, maka Allah memberi minum kepadanya dari sungai itu.” (Durratun Nashihin I:164)

Rasulullah saw. juga bersabda:“Ketahuilah, bahwa Rajab itu adalah bulan Allah yang pekak (tuli). Maka barangsiapa shaum satu hari di bulan Rajab dengan penuh percaya dan ikhlas, maka pasti mendapat keridhaan yang besar dari Allah. Barangsiapa shaum dua hari, maka para penghuni langit dan bumi tidak akan menilai dia tidak memperoleh karomah/kemuliaan di sisi Allah. Barangsiapa shaum tiga hari maka diselamatkan oleh Allah dari bahaya dunia dan dari siksaan akhirat serta diselamatkan dari sakit gila, lepra, penyakit balak (penyakit putih-putih kulit yang menyebabkan gatal-gatal), dan diselamatkan dari fitnah syetan dan dajjal. Barangsiapa shaum tujuh hari, ditutuplah baginya pintu Jahannam. Barangsiapa shaum delapan hari, maka dibukakan baginya pintu sorga. Barangsiapa shaum sepuluh hari, dia tidak akan minta sesuatu kepada Allah melainkan pasti Dia kabulkan. Barangsiapa shaum limabelas hari, maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan mengganti semua kejahatannya dengan kebaikan. Dan barangsiapa menambah (shaumnya) maka Allah pun menambah pahala shaumnya.” (Durratun Nashihin I:160-161)

Dalam riwayat Ibnu Abbas ra. disebutkan bahwa shaum sebulan penuh di bulan Rajab adalah makruh. Imam Ahmad ra. pun memakruhkannya juga. Orang yang shaum di bulan Rajab sebaiknya jangan sebulan penuh, tetapi tidak usah shaum dua atau tiga harinya.

Imam Ahmad ra. meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., akan tetapi hukum makruhnya menjadi hilang bila shaum di bulan Rajab itu disertai dengan di bulan-bulan selainnya. Al-Mawardi berpendapat dalam kitab Iqna, “Disunanahkan shaum di bulanRajab dan Sya’ban.”

Dalam riwayat Abu Qilabah ra. disebutkan bahwa sesungguhnya di dalam sorga terdapat satu istana untuk mereka yang shaum di bulan Rajab. Kata Baihaqi ra.:“Abu Qilabah ra. adalah tabi’in, orang besar yang menyampaikan itu dari yang lebih tinggi dari padanya yakni sahabat yang mendengar dari Rasulullah saw.”

Dari A’isyah ra. yang mengatakan:”Nabi bersabda,‘Semua orang dalam keadaan lapar di hari Kiamat, kecuali para Nabi dan para keluarganya serta orang-orang yang shaum di bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan. Maka sesungguhnya mereka kenyang dan tidak ada rasa lapar dan dahaga bagi mereka.’ ” (Durratun Nashihin I:165)

Nah Sahabats, demikianlah keterangan dari Rasulullah saw., para Sahabat, tabi’in serta para ulama tentang keutamaan shaum sunnah di bulan Rajab. Semoga hal ini menambah ghirah kita untuk mengamalkannya dengan ikhlas.

Wallahu a’lam bi shawwab. []

RAJAB ADALAH BULAN ALLAH SWT

Salaam Sahabats…

Tanpa terasa waktu bergulir, Alhamdulillah pertengahan bulan Jumadil Akhir (Jumadits Tsani) 1431 H sebentar lagi kita lewati. Hari-hari menjelang datangnya Hilal bulan Rajab 1431 H segera menemui kita, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menyambut tamu-tamu agung kita? Sudahkah kita menambah ilmu dan amaliah kita tentang Rajab, Sya’ban dan Ramadhan? Tahukah kita bahwa Rasulullah saw. bersabda tentang ketiga bulan tersebut,“Sesungguhnya Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.” (diriwayatkan dalam kitab Duratun Nashihin I:63)?

Dalam buku “Keagungan Rajab & Sya’ban” karya Ust. Abdul Manan bin H. Muhammad Sobari, yang diterbitkan oleh Penerbit Republika diriwayatkan bahwa: “Setelah bulan Rajab naik ke langit, lalu Allah berfirman kepadanya: ‘Wahai bulan-Ku, adakah mereka menyukaimu?’ Rajab diam saja, sehingga Allah mengulangi lagi pertanyaan-Nya dua atau tiga kali. Kemudian Rajab menjawab,’Tuhanku Engkau Maha Menutupi segala cela (kesalahan)dan Engkau telah memerintahkan kepada makhluk-Mu supaya menutupi cela orang lain dan Rasul-Mu telah menamaiku si Pekak (Tuli). Saya mendengar ketaatan makhluk-Mu dan tiada mendengar kedurhakaan mereka.’ Kemudian Allah berfirman lagi,‘Engkau adalah bulan-Ku yang memiliki cela lagi pekak (tuli) dan para hamba-Ku pun memiliki cela. Kuterima mereka beserta cela mereka dengan sebab kemuliaanmu (Rajab), sehingga Aku pun menerima dirimu sedang engkaupun memiliki cela. Aku mengampuni mereka dengan sebab penyesalan mereka yang hanya sekali padamu (di bulan Rajab) dan Aku pun tidak mencatat perbuatan cela mereka di waktumu (bulan Rajab).”

Dalam riwayat yang lain, disebutkan bahwa bulan Rajab dinamai si Pekak (Tuli) karena malaikat Kiroman Katibin mencatat semua kebaikan dan kejahatan di semua bulan, tetapi di bulan Rajab hanya menulis kebaikan saja, tidak mencatat semua kejahatan yang dilakukan hamba karena mereka tidak mendengar kejahatan terjadi pada bulan Rajab yang harus mereka catat.

Keagungan Hari Jumat Pada Bulan Rajab

Jumat Pertama Bulan Rajab
Diriwayatkan dalam kitab Duratun Nashihin, bahwa Abu Bakar ra. Berkata,“Apabila telah lewat 1/3 malam Jumat pertama bulan Rajab, para malaikat yang di langit dan di bumi berkumpul di sisi Ka’bah. Lalu Allah berfirman kepada mereka,’Hai para malaikat-Ku, mintalah apa yang kamu inginkan.’ Para malaikat menjawab,’Ya Rabb, kami menginginkan untuk orang-orang yang shaum Rajab, agar Engkau beri ampunan.’ Allah menjawab,’Hai para malaikat-Ku, demi keperkasaan-Ku dan ketinggian-Ku, sungguh mereka telah Kuampuni.’” (Duratun Nashihin I:162)

Setiap Malam Jumat Bulan Rajab
Pada setiap malam Jumat bulan Rajab para malaikat berkumpul di belakang gunung Qaf. Di sana terdapat sebuah bumi berwarna putih seperti perak, luasnya tujuh kali dunia ini. Para malaikat memenuhi tempat itu dengan begitu padat, seandainya ada sebatang jarum jatuh ke sana, pasti akan mengenai mereka. Para malaikat semuanya memgang bendera yang bertuliskan “Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah”.
Mereka duduk tawadhu (merendahkan diri), memohonkan keselamatan bagi umat Nabi Muhammad saw. kepada Allah dan berdoa sampai waktu subuh tiba dengan doa: “Ya Tuhan kami, kasihanilah umat Muhammad, janganlah Engkau siksa mereka.” Allah SWT menjawab,”Sungguh mereka telah Aku ampuni.” (Duratun Nashihin I:162)

Mengagungkan Rajab Dengan Memperbanyak Ibadah di Dalamnya (Ahli Rajab)
Pada bulan Rajab, hendaklah kita memperbanyak shalat malam, istighfar dan taubat, membaca shalawat, shaum sunnat Rajab serta ibadah lainnya. Kelak, siapa saja yang mengerjakan karena mengharapkan ridha Allah, akan melintasi jembatan Shiratal Mustaqim seperti kilat yang menyambar.
Rasulullah saw. bersabda, “Bila datang hari Kiamat, maka ada suara yang memanggil:’Dimana para Ahli Rajab?’ Maka memancarlah sinar, kemudian disusul oleh para malaikat yang diikuti oleh para Ahli Rajab, dan mereka semua melewati jembatan Shiratal Mustaqim seperti halilintar yang menyambar. Selanjutnya mereka sujud kepada Allah karena bersyukur telah mampu (selamat) melintasi jembatan Shiratal Mustaqim. Maka Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai para Ahli Rajab, angkatlah kepala kalian pada hari ini disebabkan kalian telah bersujud di dunia pada bulan-Ku (Rajab). Pergilah ke tempat kalian masing.’” (Duratun Nashihin I:165-166)

Amalan Yang Dianjurkan selama Bulan Rajab

  • Menurut kitab Duratun Nashihin, amalan yang sebaiknya kita kerjakan selama Rajab adalah:
  • Taubat dan Istigfar
  • Memperbanyak bershalawat
  • Bertasbih
  • Membaca doa di bulan Rajab
  • Shalat malam di bulan Rajab
  • Shalat Fardhu berjamaah
  • Membaca QS.Al-Ikhlas setiap hari selama Rajab
  • Shaum sunah bulan Rajab
  • Membaca Tahlil (Laa ilaha illallah)

Nah, sahabat, marilah kita tidak menyia-nyiakan kesempatan menabung amal-shalih di bulan-bulan yang penuh barakah Allah ini…[]

Referensi:

Ayat Tijarah – Perniagaan

Sahabats…

Perniagaan, atau perdagangan yang dalam bahasa Al-Qurannya tijaroh adalah suatu bentuk kegiatan yang dilakukan oleh sebagian besar kita untuk menjemput rizki karunia Allah, Ar-Raazak.

Al-Quran menyinggung tentang Tijaroh ini dalam beberapa ayatnya.

Perniagaan Haqiqi

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih?

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,” (TQS.61:10-11)

Keutamaan Perniagaan yang Diniatkan Untuk Mensyukuri Nikmat Allah SWT.

Untuk mengejewantahkan Perniagaan Hakiki tersebut, Allah SWT memberi tuntunan untuk ketika kita memutuskan memilih berniaga di dunia ini.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (TQS.4:29)

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.” (TQS.2:198)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli/perniagaan. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah: ‘Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan’, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.” (TQS.62:9-11)

Rasulullah juga bersabda:

“Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa, dll).” (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla.” (HR. Ahmad)

“Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah.” (HR. Ahmad)

“Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat, sedekah atau haji namun hanya dapat ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah.” (HR. Ath-Thabrani)

“Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah (lelah) dalam mencari rezeki yang halal.” (HR. Ad-Dailami)

“Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya maka itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak.” (Mutafaq’alaih/ HR Bukhari & Muslim)

“Tiada makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangan sendiri.” (HR. Bukhari)

“Apabila dibukakan bagi seseorang pintu rezeki maka hendaklah dia melestarikannya.” (HR. Al-Baihaqi)

Keterangan:

Yakni senantiasa bersungguh-sungguh dan konsentrasi di bidang usaha tersebut, serta jangan suka berpindah-pindah ke pintu-pintu rezeki lain atau berpindah-pindah usaha karena di khawatirkan pintu rezeki yang sudah jelas dibukakan tersebut menjadi hilang dari genggaman karena kesibukkan nya mengurus usaha yang lain. Seandainya memang mampu maka hal tersebut tidak mengapa.

“Seusai shalat fajar (subuh) janganlah kamu tidur sehingga melalaikan kamu untuk mencari rezeki.” (HR. Ath-Thabrani)
“Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barokah dan keberuntungan.” (HR. Ath-Thabrani dan Al-Bazzar)
“Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi hari mereka (bangun fajar).” (HR. Ahmad)
“Barangsiapa menghidupkan lahan mati maka lahan itu untuk dia.” (HR. Abu Dawud dan Aththusi)

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan:

Hal tersebut khusus untuk lahan atau tanah kosong yang tidak ada pemiliknya. Jika lahan atau tanah kosong tersebut ada pemiliknya maka tidak boleh diambil dengan jalan yang bathil.

“Carilah rezeki di perut bumi.” (HR. Abu Ya’la)
“Pengangguran menyebabkan hati keras (keji dan membeku).” (HR. Asysyihaab)
“Allah memberi rezeki kepada hambaNya sesuai dengan kegiatan dan kemauan kerasnya serta ambisinya.” (HR. Aththusi)
“Mata pencaharian paling afdhol adalah berjualan dengan penuh kebajikan dan dari hasil keterampilan tangan.” (HR. Al-Bazzar dan Ahmad)

Etika Dalam Perniagaan

“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (TQS.55:7-9)

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendati pun dia adalah kerabat (mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat,” (TQS.6:152)

“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (TQS.17:35)

“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan; dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu.” (TQS.26:181-184)

Dalam hal kejujuran dalam perniagaan, Rasulullah saw. bersabda:

“Sebaik-baik mata pencaharian ialah hasil keterampilan tangan seorang buruh apabila dia jujur (ikhlas).” (HR. Ahmad)
“Sesungguhnya Ruhul Qudus membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya.” (HR. Abu Zar dan Al Hakim)

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (TQS.83:1-3)

Hutang Piutang

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun daripada utangnya. Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakan, maka hendaklah walinya mengimlakan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu, (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (TQS.2:282)

“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanahnya (utangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (TQS.2:283)

“Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (TQS.2:280)

Persoalan Riba

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”(TQS.2:275)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (TQS.3:130-131)

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”(TQS.2:276-279)

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (TQS.30:39)

“dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (TQS.4:161)

Sahabats…

Bila kita cermati ayat Al-Quran maupun Hadits Rasululah di atas, kita dapat menyimpulkan beberapa hal:

a. Perniagaan adalah suatu bentuk interaksi sosial yang dihalalkan oleh Allah SWT, dan sebaiknya ditujukan dalam rangka mensyukuri nikmat Allah.

b. Perniagaan sebaiknya dilakukan atas dasar suka sama suka, tanpa paksaan.

c. Perniagaan, baik yang dilakukan secara tunai ataupun hutang piutang sebaiknya diatur secara adil dan menguntungkan kedua belah pihak.

d. Terlepas dari semua jenis perniagaan secara lahiriah antar manusia, Allah juga menawarkan suatu perniagaan yang akan menghasilkan keuntungan dunia dan akhirat kepada kaum mukminin, yaitu kita beriman kepada Allahdan Rasul-Nya, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu.

Referensi:

1. Al-Quran

2. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press

 An’amta Alaihim – Golongan Yang Engkau beri Nikmat

oleh: Tim Mentor Yayasan Islam Paramartha

Salaam Sahabats…

Dalam QS Al-Fatihah ayat-7, Allah SWT menyatakan bahwa Shirath al-Mustaqiim adalah “jalan orang-orang yang diberi ni’mat (shirathal ladzina ‘anamta alaihim).” Sekali lagi, mengingat hakikat insan adalah jiwanya, maka ni’mat di sini selain bersifat jasadiah/lahiriah tentu yang lebih utama bagi jiwa-jadi nafsaniah sifatnya.

Mengenai siapa saja, serta pemeringkatan dari mereka yang diberi ni’mat inilah yang dinyatakan dalam QS An-Nisaa’ [4]: 69.

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiiqiin, syuhada dan shalihiin. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (TQS.4:69)

Nabi, Shiddiqiin, Syuhada dan Shalihiin adalah para insan yang berada di Shirath al-Mustaqiim. Ini adalah istilah-istilah Al-Qur’an yang menunjukkan menyatakan tingkat kesucian jiwa (nafs).

Untuk memperoleh derajat yang demikian itu -selain peringkat nabi- kita hendaknya selalu jihad an-nafs (berjuang mengendalikan diri) menuju Tuhan-nya.

Pada kesempatan ini, kita mulai mengkaji karakteristik dari mereka yang sungguh-sungguh Allah perjalankan di Shirah al-Mustaqiim.

Shalihiin
Shalihiin didefinisikan Al-Qur’an dalam QS Al-Ankabut[29]: 9,

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) Shalihiin.”

Shalihiin = iman + amal-sholeh, dimana:
IMAN = pantulan nur-iman dari Al-Mukmin,
AMAL = yang diperintahkan Rukun Islam,
SHALEH = amal itu dikerjakan sewaktu qalbu-nya tidak-fasad/rusak

1) Iman

Iman adalah Cahaya yang Allah limpahkan ke qalb yang bersih dari dosa, bersihnya qalb karena hamba tersebut karena berhasil ditaubatkan secara haqq.

Ilustrasi ini, menggambarkan proses taubat yang dilalui, untuk meraih iman:
o Tahap I, qalb masih penuh kotoran.
Pada tahap ini kita melaksanakan taubat awal, lalu diberi iman-awal oleh Allah Sang Pemberi-Iman untuk modal-awal pembersihan.

Allah memberi nama Surat ke 40 dari Al-Qur’an Allah dengan salah satu nama-Nya, Al-Mukmin, yang bermakna Pemilik Iman. Jadi tidak ada manusia yang memiliki iman kalau tidak disinarkan-Nya cahaya iman. Tidak ada manusia yang memiliki imannya sendiri, tapi hanya memantulkan Cahaya Iman al-Mukmin.

o Tahap II, sebagian qalb mulai bersih.
Tahap selanjutnya dari seseorang yang mulai ditaubatkan, sewaktu ia mulai berupaya berbuat-baik dan mencoba melaksanakan petunjuk, maka sebagian qalb mulai dibersihkan.

Pada tahap ini terjadi gempuran-gempuran ujian pada kita, yang pada hakikatnya Allah rancang untuk meluaskan qalb kita. Kegelapan yang semula menghuni qalb terusir ke luar. Gempuran-gempuran seperti ini, secara umum diistilahkan sebagai musibah.

Kita menganggap konotasi musibah sebagai sesuatu yang buruk adanya. QS At-Taghabun [64]: 11, menyatakan bahwa “Tiada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah …” Maka apa saja yang dialami seseorang dalam pertaubatannya adalah karena Rahmat-Nya.

Sementara QS Ali ‘Imran [3]: 191 menyatakan “…tiada dalam ciptaan sesuatu yang bathil…”. Jelaslah bahwa kehadiran musibah menjumpai seseorang itu terjadi dengan seizin-Nya. Dengan pernyataan ini, jelaslah kehadiran musibahpun, sesuatu yang Allah hadirkan-dan karenanya bermanfaat bagi diri kita-walaupun bertentangan dengan selera jasadiyah kita.

Musibah juga merupakan alat untuk menguji ketaatan seorang insan kepada Rabb-nya. Seringkali mereka yang di Shirath al-Mustaqiim mencontohkan dengan adab mereka sendiri untuk berdo’a sewaktu datang musibah, yang kurang-lebih artinya: “Berilah aku yang baik menurut-Mu dan berilah aku kekuatan untuk menerima ketetapan-Mu”.

Mereka tidak mau melarikan diri dari ketetapan apapun yang datang. Al-Qur’an suci mencontohkan riwayat banyak orang suci yang memperlihatkan kesabarannya sewaktu dihampiri musibah.

o Tahap III, kepada qalb yang bersih ditebar benih iman.
Setelah qalbu bersih, maka ditebari dengan benih-benih iman, lalu disinari dengan Cahaya Iman, terjalinlah hubungan dengan Allah.
“… Dan barangsiapa yang beriman billah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke qalbunya” (QS At-Taghabun [64]: 11).

2) Amal
Amal dilaksanakan dengan panduan ilmu. Amal yang paling afdal adalah ilmu mengenai Allah ta’ala. Pelaksanaan amal dilandasi oleh Rukun Islam. Ada baikny kita pererhatikan pula Hadits Qudsi mengenai amal fardhu dan nawafil.

3) Shaleh
Lawannya adalah fasad yang berarti rusak. Wajah yang dihadapkan sang hamba pada khaliknya adalah qalb-nya. Jika qalb ini shaleh maka shaleh-lah keseluruhan dirinya. Jika fasad maka fasad-lah keseluruhannya.

Shalihiin adalah insan yang beriman, ada cahaya dari Ilahi yang dilimpahkan dan dipantulkan oleh qalbu yang suci. Terjalinlah jaringan komunikasi dengan Allah, turunlah petunjuk (hudan) melalui media nur-’iman. Dengan landasan hudan itu, ia beramal.

Dapat kita simpulkan, bahwa “ihdinash shirath al-mustaqiiim” (QS Al-Fatihah [1]: 6), yang dimohonkan kepada-Nya minimal sebanyak 17 x sehari-semalam dalam shalat, adalah permohonan agar setidak-tidaknya dimasukkan menjadi golongan Shalihiin.

Syuhada
Syuhada berada satu peringkat lebih tinggi daripada kaum Shalihiin. Allah menjelaskan tentang golongan ini pada QS.Al-Hadid [57]: 19,

“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien dan Syuhada (orang-orang yang menjadi saksi) di sisi Rabb mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka.” (TQS.57:19)

adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Peringkat ini berkaitan dengan persaksian primoridal nafs di :

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (TQS.7: 172), yaitu persoalan dipikulnya amanah seperti yang tersurat dalam QS. [33]: 72.

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.” (TQS.33:72)

Inilah peringkat orang yang setidak-tidaknya:

  • mampu menjadi saksi tentang keberadaan Allah;
  • sudah mengetahui-kembali persaksiannya di alam-alastu;
  • mempersaksikan al-haqq dibalik sesuatu, tidak ada sesuatupun dalam penciptaan yang bathil (QS Ali ‘Imran [3]: 191).

Shiddiqiin
Shiddiqiin merupakan peringkat yang lebih tinggi daripada syuhada, didefinisikan Al-Qur’an dalam Al Hujurat [49]: 15:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah Shiddiqiin”. (TQS.49:15)

Shiddiqiin adalah Syuhada yang telah bekerja dengan “nur-ilmunya” di dunia ini. Bersama dengan golongan “Nabi” kaum “Shiddiqiin” disebut kaum yang dekat “qarib” kepada Allah.

Nabi
Pengertian Nabi dijelaskan dalam QS Al Ahzab [33]: 45 – 47, sebagai berikut:
“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan,
dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi “.
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mu’min bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah”.

(TQS.33:45-47)

Itulah fungsi para Nabi as. bagi makhluk lainnya. Semua nabi dan rasul berada dalam kepemimpinan Rasulullah Muhammad s.a.w., sebagaimana ditunjukkan dalam jama’ah merka sewaktu shalat bersama dalam peristiwa mi’raj. Maka apa-apa yang mereka tampilkan dalam kiprah mereka sewaktu berada di dunia adalah seizin dan dalam kehendak Allah ta’ala belaka.

Adanya tuduhan, sekalipun hanya didalam hati kita, mengenai sikap atau tindakan seorang nabi yang kita pandang dengan negatif merupakan hambatan yang mencegahnya dimasukkan kita dalam golongan yang disebut dalam QS An Nisaa’ [4]: 69. Karena tidaklah mungkin kita dimasukkan dalam suatu kelompok dimana ada diantara anggotanya-yang semuanya Allah angkat-yang masih buruk dalam persangkaan kita.

Bershalawat kepada Nabi s.a.w, merupakan suatu usaha agar kita Allah masukkan menjadi kaum Nabi Muhammad saw. Usaha untuk menghubungkan diri dengan Nabi saw, dengan menjadikan beliau sebagai teladan kita, sehingga Nabi Muhammad saw. berkenan memberikan syafaatnya.

Dengan kata lain, bershalawat adalah suatu doa serta komitmen untuk menjadikan teladan Rasulullah s.a.w. sebagai patron atau alat cetak pembentuk karakteristik kepribadian kita. Teladan yang tertulis di dalam Al-Qur’an adalah kiprah dan jihad para nabi dan rasul dalam bertaubat dan ditransformasikan jiwanya sewaktu ditarik kepada Allah.

Semakin tinggi peringkat kesucian jiwa seseorang dalam golongan mereka yang diberi nikmat, maka rasa jiwa akan semakin halus. Karenanya, semakin halus pula tingkat dosanya. Demikian pula semakin ditarik kepada Allah, semakin besar ujian yang akan datang. Perlu kita sadari bahwa orang yang dicintai Allah, akan diselimuti-Nya seperti seorang ibu menyelimuti anaknya. Allah akan menyelimuti orang tersebut dengan berbagai musibah dan ujian, untuk mencegahnya dihinggapi oleh hal-hal yang tidak Allah cintai. Wallahu a’lam bi shawwab. []

Referensi:

1. Al-Quran

2. Materi Kajian Serambi Suluk, Tim Mentor Yayasan Islam Paramartha.

Ayat Liqo’ Allah

Salaam Sahabats…

Al-Quran, sebagai sumber segala sumber informasi yang haq, ternyata memberitakan dengan cukup jelas tentang Liqo’ Allah (pertemuan kita dengan Allah SWT).

Apakah itu? Bagaimana sikap kita sebaiknya mempersiapkan hal besar tersebut?

Marilah kita renungkan ayat-ayat berikut…

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Rabb-mu.” (TQS.13:2)

“Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (TQS.29:5)

“Kemudian Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (ni`mat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka.” (TQS.6:154)

Apa Yang Seharusnya kita Lakukan jika Mengharapkan Pertemuan dengan Allah SWT?

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (TQS.18:110)

Bagaimana Nasib Mereka Yang Mendustakan Pertemuan dengan Allah SWT?

“Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.” (TQS.6:31)

“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat saja di siang hari (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk. (TQS.10:45)

Nah, sahabats…

Sekarang berpulang kepada kita bagaimana mensikapinya, semoga Allah senantiasa membimbing kita. Amin.[]

Referensi:

Mu’zam Al-Muhfahras Al-Quran.

Keberserah-dirian

Sahabats…

Keberserah-dirian adalah suatu prinsip yang paling mudah disebut, tetapi paling sulit disampaikan. Ia bukanlah sebuah pengertian yang dapat kita ambil dari orang lain, melainkan sesuatu yang harus kita cari sendiri oleh masing-masing kita.

Al-Quran memandu kita dengan membentangkan contoh-contoh keberserah-dirian dari mereka yang dididik Allah. Para nabi dan orang-orang suci yang merupakan teladan bagi manusia itu-tanpa kecuali-semuanya berserah-diri.

Marilah kita merenunginya…

“Dan siapakah yang lebih baik diin-nya daripada orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, dan ia seorang muhsinun dan mengikuti milah Ibrahim yang hanif, dan Allah telah mengambil Ibrahim sebagai khalil-Nya.”
(TQS.4:125).

“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih berupa asap, lalu Dia bersabda kepadanya dan kepada bumi: ‘Datanglah kalian dengan suka-hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab: ‘kami datang dengan suka-hati.’” (TQS.41:11)

“Maka apakah mereka mencari selain diin Allah, padahal berserah-diri (aslama) segala sesuatu di lelangit dan bumi dengan suka-hati ataupun terpaksa, dan kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (TQS.3:83).

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia membuka shudur/dadanya untuk berserah-diri/aslama. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (TQS.6:125)

Tentang ayat 6:125 di atas ada keterangan dari hadits Rasulullah saw. ini:

Tatkala Rasulullah saw. membaca firman Allah Ta’ala:
“Barangsiapa dikehendaki Allah memberi petunjuk kepadanya,
niscaya Dia membuka shudur/dadanya untuk berserah diri…”

Lalu orang bertanya kepada Nabi s.a.w., “Apakah pembukaan itu?”
Nabi s.a.w. menjawab, “Sesungguhnya cahaya (nuur) itu apabila diletakkan dalam qalb, maka terbukalah dada (shudur) menerima nuur tersebut dengan seluas-luasnya.”
Berkata lagi orang itu, “Adakah tanda-tandanya?”
Nabi s.a.w. menjawab, “Ya, ada! Merenggangkan diri dari negeri tipu daya, kembali ke negeri kekal dan bersedia untuk mati sebelum datangnya mati.”

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk berserah-diri/aslama lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (TQS.39:22)

“Katakanlah kami beriman billah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il dan Ishaq, dan Ya’qub dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa dan para nabi dari Tuhan mereka, tidaklah Kami membedak-bedakan seorang pun diantara mereka. Dan kepada-Nya lah kami berserah-diri.”
(TQS.3: 84).

Nah Sahabats, setelah merenungkan ayat-ayat tentang berserah-diri, marilah kita sempurnakan Ad-Din kita dengan berjuang untuk dapat berserah-diri kepada Allah SWT, tentu sambil kita senantiasa mohon pertolongan-Nya.

Wallahu a’lam bi shawwab.[]

Referensi:

Pengertian Ulumul Qur’an

Sahabats…

Untuk menambah wawasan seputar Al-Quran. Tulisan ini kami copy dari blog sahabat Mudzakir Fauzi (http://dakir.wordpress.com/2009/03/13/pengertian-ulumul-quran/). Semoga Allah merahmati beliau, dan kita semua…

PENDAHULUAN

Al-qur’an adalah kalammullah yang diturunkan kepada nabi Muhammad lewat perantara malaikat Jibril sebagai mu’jizat. Al-Qur’an adalah sumber ilmu bagi kaum muslimin yang merupakan dasar-dasar hukum yang mencakup segala hal, baik aqidah, ibadah, etika, mu’amalah dan sebagainya.
“.. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”(TQS An-Nahl: 89)

Mempelajari isi Al-qur’an akan menambah perbendaharaan baru, memperluas pandangan dan pengetahuan, meningkatkan perspektif baru dan selalu menemui hal-hal yang selalu baru. Lebih jauh lagi, kita akan lebih yakin akan keunikan isinya yang menunjukan Maha Besarnya Allah sebagai penciptanya.Firman Allah :

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami[546]; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (TQS.Al-A’raf 52)

Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Karena itu, ada anggapan bahwa setiap orang yang mengerti bahasa Arab dapat mengerti isi Al-qur’an. Lebih dari itu, ada orang yang merasa telah dapat memahami dan menafsirkan Al-qur’an dengan bantuan terjemahnya sekalipun tidak mengerti bahasa Arab.

Padahal orang Arab sendiri banyak yang tidak mengerti kandungan Al-Qur’an. Bahkan di antara para sahabat dan tabi’in ada yang salah memahami Al-Qur’an karena tidak memiliki kemampuan untuk memahaminya.

Oleh karena itu, untuk dapat mengetahui isi kandungan Al-Qur’an diperlukanlah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana, tata cara menafsiri Al-Qur’an. Yaitu Ulumul Qur’an atau Ulum at tafsir. Pembahasan mengenai ulumul Qur’an ini insya Allah akan dibahas secara rinci pada bab-bab selanjutnya.

PEMBAHASAN

A. Pengertian Ulumul Qur’an

Secara etimologi, kata Ulumul Qur’an berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu “ulum” dan “Al-Qur’an”. Kata ulum adalah bentuk jama’ dari kata “ilmu” yang berarti ilmu-ilmu.

Kata ulum yang disandarkan kepada kata Al-Qur’an telah memberikan pengertian bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an, baik dari segi keberadaanya sebagai Al-Qur’an maupun dari segi pemahaman terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnaya.

Dengan demikian, ilmu tafsir, ilmu qira’at, ilmu rasmil Qur’an, ilmu I’jazil Qur’an, ilmu asbabun nuzul, dan ilmu-ilmu yang ada kaitanya dengan Al-Qur’an menjadi bagian dari ulumul Qur’an.

Sedangkan menurut terminologi terdapat berbagai definisi yang dimaksud dengan ulumul Qur’an diantara lain :

  • Assuyuthi ra. dalam kitab Itmamu al-Dirayah mengatakan :
    “Ilmu yang membahas tentang keadaan Al-Qur’an dari segi turunya, sanadnya, adabnya makna-maknanya, baik yang berhubungan lafadz-lafadznya maupun yang berhubungan dengan hukum-hukumnya, dan sebagainya”.
  • Al-Zarqany ra. memberikan definisi sebagai berikut:
    “Beberapa pembahasan yang berhubungan dengan Al-Qur’an Al-Karim dari segi turunya, urutannya, pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, penafsirannya, kemu’jizatannya, nasikh mansukhnya, penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan terhadapnya, dan sebagainya”.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa ulumul qur’an adalah ilmu yang membahas hal-hal yang berhubungan dengan Al-Qur’an, baik dari aspek keberadaanya sebagai Al-Qur’an maupun aspek pemahaman kandunganya sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia atau ilmu-ilmu yang berhubungan dengan berbagai aspek yang terkait dengan keperluan membahas al-Qur’an.

B. Ruang Lingkup Pembahasan Al-Qur’an
Ulumul Qur’an merupakan suatu ilmu yang mempunyai ruang lingkup pembahasan yang luas. Ulumul Qur’an meliputi semua ilmu yang ada kaitanya dengan Al-Qur’an, baik berupa ilmu-ilmu agama, seperti ilmu tafsir maupun ilmu-ilmu bahasa Arab, seperti ilmu balaghah dan ilmu I’rab al-Qur’an.

Disamping itu, masih banyak lagi ilmu-ilmu yang tercakup di dalamnya. Dalam kitab Al-Itqan, Assyuyuthi menguraikan sebanyak 80 cabang ilmu. Dari tiap-tiap cabang terdapat beberapa macam cabang ilmu lagi.

Kemudian dia mengutip Abu Bakar Ibnu al-Araby yang mengatakan bahwa ulumul qur’an terdiri dari 77450 ilmu. Hal ini didasarkan kepada jumlah kata yang terdapat dalam al-qur’an dengan dikalikan empat.

Sebab, setiap kata dalam al-Qur’an mengandung makna Dzohir, batin, terbatas, dan tidak terbatas. Perhitungan ini masih dilihat dari sudut mufrodatnya. Adapun jika dilihat dari sudut hubungan kalimat-kalimatnya, maka jumlahnya menjadi tidak terhitung. Firman Allah :

“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”(TQS. Al-Kahfi 109)

C. Pokok Pembahasan
Secara garis besar Ilmu alQur’an terbagi dua pokok bahasan yaitu :

  1. Ilmu yang berhubungan dengan riwayat semata-mata, seperti ilmu yang membahas tentang macam-macam qira’at, tempat turun ayat-ayat Al-Qur’an, waktu-waktu turunnya dan sebab-sebabnya.
  2. Ilmu yang berhubungan dengan dirayah, yakni ilmu yang diperoleh dengan jalan penelaahan secara mendalam seperti memahami lafadz yang ghorib (asing) serta mengetahui makna ayat-ayat yang berhubungan dengan hukum.

Namun, Ash-Shidiqie memandang segala macam pembahasan ulumul Qur’an itu kembali kepada beberapa pokok pembahasan saja seperti :

  • Nuzul. Permbahasan ini menyangkut dengan ayat-ayat yang menunjukan tempat dan waktu turunya ayat Al-Qur’an misalnya : makkiyah, madaniyah, hadhariah, safariyah, nahariyah, lailiyah, syita’iyah, shaifiyah, dan firasyiah. Pembahasan ini juga meliputi hal yang menyangkut asbabun nuzul dan sebagainya.
  • Sanad. Pembahasan ini meliputi hal-hal yang menyangkut sanad yang mutawattir, ahad, syadz, bentuk-bentuk qira’at nabi, para periwayat dan para penghapal Al-Qur’an Al-Qur’an, dan Cara Tahammul (penerimaan riwayat).
  • Ada’ al-Qira’ah. Pembahasan ini menyangkut waqof, ibtida’, imalah, madd, takhfif hamzah, idghom.
  • Pembahasan yang menyangkut lafadz Al-Qur’an, yaitu tentang gharib, mu,rab, majaz, musytarak, muradif, isti’arah, dan tasybih.
  • Pembahasan makna Al-Qur’an yang berhubungan dengan hukum, yaitu ayat yang bermakna Amm dan tetap dalam keumumanya, Amm yang dimaksudkan khusus, Amm yang dikhususkan oleh sunnah, nash, dhahir, mujmal, mufashal, manthuq, mafhum, mutlaq, muqayyad, muhkam, mutasyabih, musykil, nasikh mansukh, muqaddam, mu’akhar, ma’mul pada waktu tertentu, dan ma’mul oleh seorang saja.
  • Pembahasan makna Al-Qur’anyang berhubungan dengan lafadz, yaitu fashl, washl, ijaz, ithnab, musawah, dan qashr.

D. Sejarah Perkembangan Ulumul Qur’an

Sebagai ilmu yang terdiri dari berbagai cabang dan macamnya, ulumul Qur’an tidak lahir sekaligus. Ulumul Qur’an menjelma menjadi suatu disiplin ilmu melalui proses pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan untuk membenahi Al-Qur’an dari segi keberadaanya dan segi pemahamanya.

Di masa Rasul SAW dan para sahabat, ulumul Qur’an belum dikenal sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri dan tertulis. Para sahabat adalah orang-orang Arab asli yang dapat merasakan struktur bahasa Arab yang tinggi dan memahami apa yang diturunkan kepada Rasul, dan bila menemukan kesulitan dalam memahami ayat-ayat tertentu, mereka dapat menanyakan langsung kepada Rasul SAW.

Di zaman Khulafa’u Rasyiddin sampai dinasti Umayyah wilayah islam bertambah luas sehingga terjadi pembauran antara orang Arab dan bangsa-bangsa yang tidak mengetahui bahasa Arab. Keadaan demikian menimbulkan kekhawatiran sahabat akan tercemarnya keistimewaan bahasa arab, bahkan dikhawatirkan tentang baca’an Al-Qur’an yang menjadi sebuah standar bacaan mereka. Untuk mencegah kekhawatiran itu, disalinlah dari tulisan-tulisan aslinya sebuah al-qur’an yang disebut mushaf Imam. Dan dari salinan inilah suatu dasar ulumul Qur’an yang disebut Al rasm Al-Utsmani.

Kemudian, Ulumul Qur’an memasuki masa pembukuanya pada abad ke-2 H. Para ulama memberikan prioritas perhatian mereka kepada ilmu tafsir karena fungsinya sebagai umm al ulum alQur’aniyyah.

Para penulis pertama dalam tafsir adalah Syu’bah ibn al-Hajjaj (160 H), Sufyan Ibn Uyaynah (198 H), dan Wali Ibn al-Jarrah (197 H). dan pada abad ke-3 muncul tokoh tafsir yang merupakan mufassir pertama yang membentangkan berbagai pendapat dan mentarjih sebagiannya.

Beliau adalah Ibn Jarir at-Thabari (310 H). Selanjutnya sampai abad ke-13 ulumul Qur’an terus berkembang pesat dengan lahirnya tokoh-tokoh yang selalu melahirkan buah karyanya untuk terus melengkapi pembahasan-pembahasan yang berhubungan dengan ilmu tersebut.

Diantara sekian banyak tokoh-tokoh tersebut, Jalaluddin al-bulqini (824 H) pengarang kitab Mawaqi’ Al-ulum min Mawaqi’ al-Nujum dipandang As-Suyuthi sebagai ulama yang mempelopori penyusunan Ulumul Qur’an yang lengkap. Sebab, dalam kitabnya tercakup 50 macam ilmu Al-Qur’an.

Jalaluddin al-Syuyuthi (991 H) menulis kitab Al-Tahhir fi Ulum al-Tafsir. Penulisan kitab ini selesai pada tahun 873 H. kitab ini memuat 102 macam ilmu-ilmu Al-Qur’an. Karena itu, menurut sebagian ulama, kitab ini dipandang sebagai kitab Ulumul Qur’an paling lengkap.namun, Al-Syuyuthi belum merasa puas dengan karya monumental ini sehingga ia menyusun lagi kitab Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an. Didalamnya dibahas 80 macam ilmu-ilmu Al-Qur’an secara padat dan sistematis.

Menurut Al-Zarqani , kitab ini merupakan pegangan bagi para peneliti dan penulis dalam ilmu ini. Sampai saat ini bersamaan dengan masa kebangkitan modern dalam perkembangan ilmu-ilmu agama, para ulama masih memperhatikan akan ilmu Qur’an ini. Sehingga tokoh-tokoh ahli Qur’an masih banyak hingga saat ini di seluruh dunia.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa kata Ulumul Qur’an secara etimologi berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu “ulum” dan “Al-Qur’an”. Kata ulum adalah bentuk jama’ dari kata “ilmu” yang berarti ilmu-ilmu. Kata ulum yang disandarkan kepada kata Al-Qur’an telah memberikan pengertian bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an, baik dari segi keberadaanya sebagai Al-Qur’an maupun dari segi pemahaman terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnya.

Sedangkan secara terminologi dapat disimpulkan bahwa ulumul qur’an adalah ilmu yang membahas hal-hal yang berhubungan dengan Al-Qur’an, baik dari aspek keberadaanya sebagai Al-Qur’an maupun aspek pemahaman kandunganya sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia.

Ulumul Qur’an merupakan suatu ilmu yang mempunyai ruang lingkup pembahasan yang luas. Ulumul Qur’an meliputi semua ilmu yang ada kaitanya dengan Al-Qur’an, baik berupa ilmu-ilmu agama, seperti ilmu tafsir maupun ilmu-ilmu bahasa Arab. Disamping itu, masih banyak lagi ilmu-ilmu yang tercakup di dalamnya.

Secara garis besar Ilmu al-Qur’an terbagi dua pokok bahasan yaitu :
1. Ilmu yang berhubungan dengan riwayat semata-mata, seperti ilmu yang membahas tentang macam-macam qira’at, tempat turun ayat-ayat Al-Qur’an, waktu-waktu turunnya dan sebab-sebabnya.
2. Ilmu yang berhubungan dengan dirayah, yakni ilmu yang diperoleh dengan jalan penelaahan secara mendalam seperti memahami lafadz yang ghorib (asing) serta mengetahui makna ayat-ayat yang berhubungan dengan hukum.

Pertumbuhan dan perkembangan Ulumul Qur’an menjelma menjadi suatu disiplin ilmu melalui proses secara bertahap dan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan untuk membenahi Al-Qur’an dari segi keberadaannya dan segi pemahamannya.[]

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Wahid Ramli.Drs, Ulumul Qur’an, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002
Nata Abuddin, Al-Qur’an dan Hadits, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1992
Abdul Halim M, Memahami Al-Qur’an, Marja’, Bandung, 1999
Shaleh K.H, Asbabun Nuzul, C.V Diponegoro, Bandung, 1992
Al-Alwi Sayyid Muhammad Ibn Sayyid Abbas, Faidl Al-Khobir, Al-Hidayah, Surabaya

Sekilas Mengenai Petunjuk

Sahabats…

Dalam kehidupan kita, petunjuk yang menuntun jalan kehidupan adalah sesuatu kebutuhan utama, dan di antara berbagai petunjuk yang kita harapkan, yang utama dan paling utama adalah Petunjuk dari Allah, sebagai Rabb kita. Dengan mengikuti Petunjuk-Nya tersebut maka kehidupan kita akan selamat di dunia dan akhirat.

Salah satu asma Allah adalah Al-Hadi (Yang Maha Menunjuki). Petunjuk ini merupakan faktor yang memilah manusia menjadi golongan yang beruntung dan yang merugi.

Marilah kita merenungkan bagaimana Allah dalam Al-Quran berbicara mengenai Petunjuk

“Barangsiapa mendapat petunjuk Allah maka dialah yang menerima petunjuk (al-muhtadi), dan barangsiapa yang disesatkan Allah maka merekalah orang-orang yang merugi (al-khasiruun).”(TQS. 7:178)

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya …”(TQS. 2:272)

“… sesungguhnya petunjuk Allah adalah petunjuk yang benar …”(TQS.2:120)

“…barangsiapa mendapat petunjuk, maka sesungguhnya itu bagi kebaikan diri (nafs)-nya sendiri, dan barangsiapa sesat maka itu mencelakakan dirinya sendiri …”(TQS.10:108)
“Dan barangsiapa ditunjuki Allah maka dialah al-muhtadi, dan barangsiapa Dia sesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penolong bagi mereka selain dari Dia …”(TQS.17:97)

Persoalan petunjuk ini merupakan sesuatu yang sangat penting dan diwartakan untuk menjadi pegangan kita sedari awal sejarah manusia di Bumi, sebagaimana dijelaskan dalam ayat yang turun kepada penghulu manusia, Adam a.s. ini:

“Katakanlah, turunlah kalian berdua bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”(TQS.20:123)

“… barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula bersedih-hati.”(TQS.2:38)

“Mereka itulah yang tetap atasnya mendapat petunjuk dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”(TQS.2:5)

Nah, sahabat marilah kita berjuang agar kita senantiasa menjadi hamba-Nya yang Dia beri petunjuk (al-muhtadin)[]

Sabda Rasulullah saw tentang Keutamaan (Ketinggian) Al-Quran

Sahabats…

Kiranya tidak ada seorangpun di dunia ini yang paling tepat menggambarkan Al-Quran kecuali Rasulullah Muhammad saw.

Nah, kiranya kita diberi kemampuan untuk merenungkan dan mengamalkannya…

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah Saw.” (HR. Muslim)

“Sesungguhnya Allah, dengan kitab ini (Al Qur’an) meninggikan derajat kaum-kaum dan menjatuhkan derajat kaum yang lain.” (HR. Muslim)

Penjelasan:
Maksudnya: Barangsiapa yang berpedoman dan mengamalkan isi Al Qur’an maka Allah akan meninggikan derajatnya, tapi barangsiapa yang tidak beriman kepada Al Qur’an maka Allah akan menghinakannya dan merendahkan derajatnya.

Apabila seorang ingin berdialog dengan Robbnya maka hendaklah dia membaca Al Qur’an. (Ad-Dailami dan Al-Baihaqi)

“Orang yang pandai membaca Al Qur’an akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti, dan yang membaca tetapi sulit dan terbata-bata maka dia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Sebaik-baik kamu ialah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

“Orang yang dalam benaknya tidak ada sedikitpun dari Al Qur’an ibarat rumah yang bobrok.” (Mashabih Assunnah)

“Barangsiapa mengulas Al Qur’an tanpa ilmu pengetahuan maka bersiaplah menduduki neraka.” (HR. Abu Dawud)

Penjelasan:
Maksud hadits ini adalah menterjemah, menafsirkan atau menguraikan Al Qur’an hanya dengan akal pikirannya sendiri tanpa panduan dari hadits Rasulullah, panduan dari para sahabat dan ulama yang shaleh, serta tanpa akal dan naqal yang benar.

“Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan.” (HR. Ahmad)

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu pahala dan satu pahala diganjar sepuluh kali lipat.” (HR. Tirmidzi)

Sahabats…

Hanya dengan memohon bimbingan dan pertolongan Allah SWT kita berharap semangat kita untuk mengkaji dan mengamalkan hadits-hadits di atas tetap kuat di diri kita…

Sumber:

1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press dari:

Ayat-ayat Tentang Al-Birr (Kebaktian; Kebajikan)

Sahabats…

Al-Birr (kebaktian) adalah suatu perilaku yang melekat pada sekelompok kaum mukminun yang mempunyai kedudukan istimewa di sisi Allah SWT. Allah menyebut mereka sebagai Al-Abror.

Bagaimana Allah menggambarkan tentang Al-Birr dan Al-Abrar?

Marilah kita mengkaji, merenungkan dan semoga Allah bimbing untuk mengamalkannya..

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan (al-birr), sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (TQS.2:44)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan (al-birr) dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan.” (TQS.58:9)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”(TQS.5:2)

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan(al-birr), akan tetapi sesungguhnya kebajikan (al-birr)itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlu kan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.

 Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (TQS.2:177)

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; Dan bukanlah kebajikan (al-birr) memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan (al-birr) itu ialah kebajikan (al-birr) orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”(TQS.2:189)

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna/ al-birr), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (TQS.3:92)

Al-Abrar

“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti (berbuat kebajikan/al-abrar) benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan,” (TQS.82:13)

“Sesungguhnya orang yang berbakti (berbuat kebajikan/ al-abrar) itu benar-benar berada dalam keni’matan yang besar (surga),” (TQS.83:22)

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu”, maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti (berbuat kebajikan/ al-abrar).”(TQS.3:193)

“Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan-nya bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti (berbuat kebajikan/ al-abrar).” (TQS.3:198)

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan (al-abrar)minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur.” (TQS.76:5)

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang berbakti (al-Abrar) itu (tersimpan) dalam `Illiyyin.” (TQS.83:18)

Nah Sahabats, setelah mengetahui gambaran Allah SWT tentang sifat al-birr serta balasan yang Allah sediakan bagi orang-orang yang mampu mencapai derajat Al-Abrar, marilah kita senantiasa berjuang untuk mencapai derajat tersebut…[]

Nasihat Dari Guru

Sahabats,

Mengingat dan merenungkan nasihat Guru adalah kewajiban seorang murid yang baik. Diharapkan dari perenungan tersebut, semangat kita terpompa untuk mengamalkannya. Apalagi jika nasihat Sang Guru kita selalu merujuk kepada Al-Quran.

Nah, sahabats, berikut ini kami sajikan ayat-ayat yang mendasari Nasihat Guru, tentang sebagian ‘Bekal dalam Perjalanan’.

Selamat merenungkan….

Janji hendaknya Ditepati

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (TQS.16:91)

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (TQS.48:10)

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,” (TQS.7:172)

Kita semua telah berjanji dan bersaksi kepada Allah untuk menjadikan Dia sebagai Rabb kita, maka kita harus berjuang untuk memenuhi janji persaksian tersebut.

Kalau bertaubat harus sampai Taubat An-Nashuha

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya (taubat an-nashuha), mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.” (TQS.66:8)

“tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). Mereka itu memperoleh rezeki yang tertentu, yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan.di dalam surga-surga yang penuh nikmat,” (TQS.37:40-43)

“Sesungguhnya barang siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahanam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” (TQS.20:74)

Kita harus bertaubat hingga mencapai derajad hamba yang mukhlasin (yang disucikan, al-muthahharun), sebab golongan inilah yang memperoleh sorga, sedangkan barangsiapa ajal dengan membawa dosa, baginya neraka jahanam.

Petunjuk Allah diberikan kepada Qalbu al-Mukminun

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada qalbu (hati)nya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (TQS.5:35)

Hamba yang al-mukhlasin, qalbunya mampu menerima Petunjuk Allah. Namun demikian, kita harus untuk mencar al-washilah (sarana pendekatan diri kepada-Nya), serta tetap berjuang agar mencapai derajat al-muflihun (orang-orang yang memperoleh keberuntungan), orang-orang senantiasa memperoleh petunjuk Allah dalam kehidupannya.

“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (TQS.2:5)

Wallahu a’lam bi shawwab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: