Siapa yang menggoda Iblis


ANTARA AKHLAQ DAN ETIKA
Akhlak itu satu pengertian dengan karakter dan kepribadian, sedangkan etika akan berkaitan dengan sopan santun dan adab atau dalam bahasa jawa adalah unggah ungguh (tata krama). Kalau sopan santun bisa dibuat-buat, akan tetapi karakter tidak dapat. Akhlak adalah budi luhur yang berangkat dari Allah (tauhid) dan akan bermuara kepada Allah juga. Komponen penting yang terdapat di dalam akhlak adalah hablullminallah, yaitu ibadah, yang utamanya adalah Sholat. Sholat dapat dijadikan sebagai ukuran kestabilan hidup kita yaitu dengan 2 cara; pertama melihat jumlah sholat kita dan kedua melihat kualitas sholat kita. Sholat 5 waktu yang hukumnya wajib dalam agama kita (Islam) itu menjadi stabilator, dan sholat-sholat sunah berfungsi sebagai alat pengembangan-pengembangannya. Maka sholat 5 waktu itu harus digenapi, karena termasuk kebutuhan pokok (basic need) bagi kita, dan jika menginginkan pengembangan maka lakukan juga sholat-sholat sunah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Terkait dengan kualitas sholat itulah yang akan membedakan orang ‘alim dengan yang bukan orang ‘alim. Dalam sholatnya, orang ‘alim dapat meresapi bacaan-bacaan yang ia baca dan gerakan-gerakan yang ia lakukan, dan bukan hanya sekedar mengerti maknanya, akan tetapi
sudah tahapan meresapi. Seperti bacaan iftitah, seorang yang ‘alim sudah melewati beberapa tahapan yaitu mengerti maknanya, meresapinya (tarassuh/kontemplasi), dan dapat mengkontekskan dengan keadaan yang ia alami dalam kehidupan.

Dengan demikian, selanjutnya sholat akan dapat berfungsi sebagai ketenangan (bukan kesenangan) dan juga ketahanan (dari perbuatan yang dilarang agama), yang dalam al-Quran dijelaskan “Innas shalata tanha ‘anil fahsya iwal mungkar”. Ada beberapa kendala yang berat yang para santri harus jaga, yaitu kehidupan yang ada di kampus dan nonggo (main ke tempat kos-kos-an teman dan akhirnya krasan di situ). Karena apabila barang belum jadi, bertemu dengan barang lain yang tidak sejenis, maka barang tersebut akan cenderung ikut dengan yang baru. Maka untuk menjadi sholih (baik) dan muslih (berkemampuan memperbaiki) itu tidak gampang dan membutuhkan perjuangan yang sangat serius.
Selain 2 cara di atas, ada juga Qiraatul Qur’an (membaca al-Quran), membaca saja itu sudah mendapat pahala karena memang al-Quran adalah mu’jizat. Apalagi dapat memahami dan juga menafsirinya, maka akan lebih bermanfaat dan menjadi modal penting dalam kehidupan. Dahulu waktu Abah di pondok, mendapatkan ijazah dari kyai saya Usman Mansur “kalau kamu ingin diberi otak yang cerdas dan lurus bacalah al-Quran semampumu setelah shalat dzuhur”. Kenapa kok setelah shalat dzuhur? Karena kiri-kanannya dzuhur itulah tempatnya godaan. “Cerdas dan lurus” artinya adalah IQ tinggi dan dipergunakan untuk kebaikan.
Apabila beberapa cara di atas dilakukan, maka yang namanya pinter itu akan melewati 2 jalan, yaitu; jalan eksternal (dengan belajar) dan internal (diri sendiri menjadi sumber ilmu). Maka orang-orang yang di dalamnya mempunyai sumber ilmu, kemudian dia menangkap sesuatu dari luar maka dia akan mempunai kelipatan dalam keilmuan dan akhlak. Perlu diingat juga, sebenarnya ilmu agama dan ilmu umum itu sama dalam konstruksinya, akan tetapi tidak sama dalam kontennya. Misalnya, kamu belajar fiqih dan mengerti begini-begini, itu kalau dipindahkan ke hukum yang lain, misalnya hukum pidana, hukum internasional, hukum alam, maka itu saklarnya saja yang harus dipindah. Karena konstruksnya itu sama dan yang berbeda hanya kontennya. Maka buat orang yang cerdas dan lurus, mereka diberi satu bisa mengerti, dua, tiga, empat, dan seterusnya. Jadi ibadah akan sambung dengan ilmu, dan di situ letak saklar/linknya. Antara kecerdasan spiritual yang dibentuk oleh ibadah, menyambung dengan ilmu yang ilmu itu bisa datang dari eksternal dan dari internal (bisa “allama bil qalam” dan bisa “allamal insaana ma lam ya’lam”), dari situ sudah akan mulai pinter dan tanggung jawab.
Pada zaman ini, diperlukan orang-orang yang pinter dan tanggung jawab, karena tanggung jawab ilmu itu tidak nempel pada ilmunya, akan tetapi tanggung jawab ada pada kepribadiaan orang yang memiliki ilmu. Jadi “al-‘ilmu saiun wa mas’uliyatul ilmu syaiun akhor”, jadi boleh kamu cari ilmu apapun dan boleh dapat banyak atau sedikit, tapi belum ada jaminan kamu tanggung jawab pada ilmunya dan termasuk di dalamnya ilmu agama. Karena siapa yang akan menjamin orang yang tau haram akan menjauhi dengan betul? Gak ada yang menjamin dan hanya hidayah. “manizdada ilman wa lam yazdad hudan lam yazdad minalahi illa bu’dan”, seseorang yang ilmu rasionalnya tinggi, akan tetapi tidak disangga dengan hidayah, maka ilmu ini akan lari sendiri dan justru menjauhi Allah SWT.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, sebenarnya kalau memang seseorang itu cedas dan lurus, tentunya akan membawanya menuju pintu hidayah. Akan tetapi karena kesombongan, semakin ilmu tinggi maka justru menjauhi Allah. Oleh karena itu, apabila hubungan dengan Allah sudah bersambung dengan ilmu, melahirkan kemudian pertanggungjawaban ilmu, mulailah kamu bisa disebut anak yang shaleh. Nah, proses keshalehan ini tidak bisa dilepas dan harus dengan disiplin dan latihan diri. Jadi tidak ada karakterisasi tanpa disiplin dan latihan. Maka yang menjadi bahaya besar adalah generasi yang tidak mau disiplin, yang sebenarnya adalah generasi yang sedang menghancurkan dirinya sendiri.
Pesan beliau yang terakhir adalah agar para santri dapat disiplin diri, karena generasi yang tidak mau disiplin lah yang akan menjadikan masa depan hancur, dan jangan sekali-kali menuntut kebebasan sebelum melakukan kewajiban, karena kebebasan akan muncul secara otomatis setelah kita melakukan kewajiban. Dalam al-Quran dijelaskan “innama’al usri yusron” dan itu jangan dibalik-balik. Jadi kesulitan yang kita lalui akan menumbuhkan tanaman kemudahan. Satu lagi yang seringkali menjadi kebiasaan anak sekarang adalah suka terhadap sesuatu yang instan, dan yang perlu dingat adalah “sesuatu yang instan itu tidak ada, dan yang ada adalah perjuangan”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: